SBY-Partai-Demokrat-kongresDalam teori akting ada tiga kelas akting. Good acting, over acting, under acting. Good acting bila aktor bisa memerankan dengan baik karakter tokohnya hingga penonton lupa tokoh itu sedang dimainkan oleh seorang aktor. Over acting bila aktor bermain berlebihan dalam perannnya, banyak kita lihat dalam kebanyakan sinetron kita. Marah yang kehilangan arah, nangis yang cuma mengandalkan airmata, dan sebagainya. Under acting bila kita tidak bisa melihat perbedaan antara aktor dan perannya. Datar saja.Kalihatan sekalai aktor itu sedang ngekting.

Dalam keriuhan politik RUU Pilkada, partai Demokrat menampilkan sandiwara yang mudah terbaca. Para aktornya kelas under acting. Kalau PDIP. PKB, Hanura  sempat tertipu oleh sandiwaranya, karena mereka sedang dalam tekanan psikologis saja. Reaksi SBY atas walkoutnya Demokrat, sama saja under aktingnya. Makanya nggak heran kalau aktingnya mudah ketebak.

Tapi bukan cuma partai demokrat yang sedang berakting. Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat juga berkating, tapi mereka kelas good acting, walau sekali-sakali kelas over acting ketika mulai panik di paripurna. Cut! Bungkuuuus.

Iklan

hamdan-mk-131108cKita sudah terbiasa memilah-milah wajah dalam spesifikasi tertentu. Wajah cantik dan ganteng hanya di letakan dalam kelompok artis. Jika ada artis yang berwajah tidak cantik atau ganteng maka diragukan keartisannya. Padahal yang bukan artis banyak yang tidak kalah cantik dan gantengnya. Tengok saja tetangga kita, perhatikan wajahnya dengan seksama, bayangkan jika dia memakai gincu atau memakai pakaian tertentu yang biasa dipakai oleh artis. Pasti tidak kalah cantik atau gantengnya dengan artis. Bahkan bisa jadi lebih ganteng, sehingga tanpa sadar mulut kita bergumam, hmmm ganteng-ganteng tetangga gue. Bisa jadi pacar lima langkah nih…

 

Atau bayangkan begini. Ketika sang artis ganteng masih cengar cengir di ruang casting beserta puluhan pelamar lainnya, wajahnya biasa-biasa saja. Badannya selalu membungkuk kepada petugas casting atau seseorang yang berwajah sutradara. Seperti apa wajah sutradara? Yang pasti  kurang gantenglah. Karena sutradara digambarkan memakai topi ala Putu Wijaya, calon artis ini membungkuk lebih dalam ketika bertemu dengan seseorang berpenampilan seperti itu. Padahal dia pedagang bakmi di depan rumah produksi. Ketika petugas casting memperkenalkan, ini sutradaranya mau melihat akting kamu. Sang calon artis menatap seperti tidak percaya.

Ini pengalaman pribadi saya ketika dulu saya masih menjadi co director di sebuah sinetron seri. Sebut saja judulnya “Culunnya Pacarku.” Seperti biasa ketika sebuah sinetron mulai turun ratingnya, dimunculkan tokoh baru. Celakanya tokoh baru itu akan ditayangkan dua hari lagi. Lebih celaka lagi, pemeran tokoh baru itu saat seluruh crew sudah siap di lokasi  belum ketahuan orangnya.

Unit produksi membisikan,pemeran tokoh baru sudah datang. Ternyata orang oyang ditunggu-tunggu adalah remaja kurus, tidak terlalu tinggi, wajahnya biasa-biasa saja.Namanya Reza Rahadian nama yang sekarang sangat populer. Pada waktu itu nama yang seumur-umujr baru dengar. Kecelakaan berikutnya dia mengaku belum pernah sekalipun  berkating di layar kaca. Dalam hati saya menyumpah pelaksana produksii yang nekad mengirim orang baru untuk peran yang lumayan berat ini. Untuk minta pengganti sudah tidak mungkin. Dua hari lagi mau tayang! Director Ismali Sofyan Sani berkali-kali menggeleng-elengkan sambil senyum kecut.

Karakternya  adalah pemuda yang buta, sejak kecil tidak pernah kena  sinar matahari di sekap di sebuah gudang, oleh kakaknya akan dibebaskan ke dunia luar.Terpaksa saya mengeluarkan semua kemampuan akting saya untuk memberi contoh,  walaupun dalam hati saya tidak yakin remaja yang kurang ganteng ini mampu melakukannya. Tapi setelah satu dua kali latihan,ternyata dia mampu berakting lebih bagus dari saya! Saya mulai curiga jangan-jangan di bohong kalau ini pertama kali aktingnya di layar kaca. Tapi memang begitulah kenyataannya. Sekarang Reza Rahadian sudah jadi aktor hebat. Karena dia berada di jajaran selebritis, secara alami persepsi kegantengannya menyertainya pula.

Selain artis, memiliki wajah ganteng bisa jadi berkah juga.  Dulu Jhony Indo dikenal sebagai perampok ganteng. Setelah keluar dari nusa kambangan dia jadi bintang film, sekarang jadi dai.  Di zaman sosmed ini mulai dikenal  ada pemulung ganteng, ada polisi ganteng, ada satpam ganteng, ada menteri ganteng.

Wajah ganteng SBY salah satu factor yang mengantarkannya menjadi presiden dua kali berturut-turut. Tapi Prabowo kurang beruntung. Wajah gantengnya yang disamakan dengan Al putra Ahmad Dani dikalahkan oleh wajah Jokowi yang disamakan dengan Dede OVJ. Karena sudah menjadi presiden terpilih, ya aura kegantengan Jokowi yang secara berseoloroh dia menyebutnya sama dengan Dude Herlino mulai nampak juga.

Hamdan Zoelva hakim MK dari dulu tidak ada yang mengulas wajahnya. Tapi setelah dia memenangkan kubu Jokowi, kegantengannya mulai ramai dibicarakan oleh kaum hawa di sosmed. Apakah Hamdan tetap ganteng jika misalnya dia memenangkan kubu Prabowo? Entahlah.

 

Tangerang, 29 Agustus 2014

 

 

What ISIS?

Posted: September 29, 2014 in Uncategorized
Tag:,

ISIS cuma sekumpulan kecil semut yang dengan sekali tiup saja lari tunggang lwhatanggang, atau sekali injak saja mati semua atau paling tidak cedera serius. Tapi entah kenapa tiba tiba jadi seperti ribuan gajah yang menghancurkan sawah ladang pikiran kita?

ISIS cuma setetes embun yang dengan sekali usap saja, masuk ke dalam pori-pori, tapi kenapa tiba-tiba mereka seperi tsunami yang memporak randakan simpati kita pada Palestina? Menenggelamkan kebiadaban Israel di Gaza?

Kalau ISIS bukanlah semut kenapa dia tidak bisa menguasai Irak negeri kecil tempat markas mereka? Kenapa ISIS baru berani berulah setelah tentara Amerika pulang mudik? Kenapa kita yang nun jauh di sini malah ketakutan belebihan pada ISIS?

Kalau ISIS bukan setetes embun, kenapa dia tidak bisa menang lawan pemerintah Suriah? Padahal dunia tahu semua, Eropa dan Amerika dulu membantu perjuangan mereka? Kenapa kita yang nun jauh di sini menganggap ISIS akan bisa mendirikan khilafah di Indonesia? Ada urusan apa mereka dengan kita? Mau bikin khilafah lintas Negara seperti masa ke kahlifahan dulu? Anak-anak ingusan seperti ISIS bisa apa mereka? Bahkan Ikhwanul Muslimin saja yang berkuasa secara konstitusional, secara demokratis, ditumbangkan dengan cara tidak demkortis dan dicap teroris. Bahkan Hamas saja yang jelas menang pemilu dan berjuang demi tanah airnya juga dicap teroris. Ketika semua Negara kompak memerangi teroris, bagaimana caranya ISIS mewujudkan cita-cita gilanya itu?

Sama seperti cerita teroris yang akan mendidrikan Negara berdasarkan Islam di sini kalau mereka berhasil membunuh kepala Negara. Lha rakyatnya memang dianggap patung semua? Membiarkan teroris lengggang kangkung ke istana depan monas sana? Memangnya kepala Negara sama dengan kepala ular yang jika dipenggal kepalanya, mati semua? Bahkan capres yang memenangkan pilpres 56 persesn suara saja masih terjanggal di MK. Masa teroris yang jumahnya nol koma nol koma nol bisa berkuasa di Indonesia? Dongeng klasik yang sudah nggak menarik lagi, lebih menarik dongeng moderen Roro Jonggrang dan Dayang Sumbi masuk penjara karena berkelahi main jambak-jambakan saat syuting film.

Teroris sejak zaman doeloe sampai sekrarang memang ada, cuma namanya saja berbeda. Di sini teroris jadi bulan-bulanan Denus 88, itu belum tentara kita turun tangan, ditambah lagi dana besar yang selalu siap setiap saat digelontorkan buat memerangi teroris. Jadi apa yang bikin rakyat panik pada ISIS? Apa karena mereka berani corat coret tembok? Ah,soal itu mah serahin saja sama babinsa,binamas, sebentar juga ketangkep, atau maksimal bantuan polsek. Kalau sampai sekarang anak nakal yang corat coret tembok itu belum ketangkep juga, ya..nggak tahulah.
Dunia nggak bakal kalah sama teroris, percaya deh. Cuma orang gila yang mau jadi teroris, dan jumlah orang gila itu sangat sangat sedikit. Memang dulu walau sedikit banyak juga yang populer dan bikin keder, tapi kan Osama, Nurdin M Top, dokter Azhari, Imam smadura cs kan sudah jadi cacing tanah. Sekarang tinggal recehannya saja, tapi kenapa tiba-tiba muncul kepanikan pada ISIS?

Media televisi terkadang jadi biang kerok juga. Sewaktu TV One mewawancari menterti Tifatul Sembring, hostnya menanyakan kepada pak menteri, “Memang susah ya menghapus konten propaganda ISIS? “ menteri menjawab sudah ada Sembilan propaganda ISIS yang di hapus. Sang host bertanya lagi, “ Tapi masih banyak yang bisa diakses?” dengan nada mengecilkan kerja sang menteri. Padahal..saat wawancara berlangsung TV One berkali-kali menayangkan video propaganda ISIS. Kenapa pak Menteri tidak bertanya, “ Anda juga bantu dong..masa saya disusruh menghapus, Anda terus saja menayangkan video ISIS.” Kalau saya jadi mentri, langsung saya siram wajah hostnya dengan air teh. Media masa sadar atau tidak sadar sudah menjadi humas ISIS.

Media masa juga memuat komentar bapak-bapak yang terhormat tentang pengaruh ISIS. ISIS dikabarkan berhasil membaiat teroris yang ada dalam penjara. Bagaimana bisa? Siluman macam apa ISIS ini hingga bisa masuk ke dalam ruang yang dijaga super ketat? Bahkan yang dibaiat itu jika keluar dari tahanan saja harus dikawal oleh pasukan bertopeng lengkap dengan senjata mesin dan berkacamata seperti Matrix, gagah seperti polisi luar negeri dalam film-film action.

Mulai dari presiden dan bawahannya, mulai dari ulama dan ormas Islam, politisi sampai para pengamat semua bicara ISIS. Rakyat yang tadinya nggak tahu ISIS jadi sedikit tahu, yang sudah tahu jadi tambah tahu. Kalau mau diberantas, kenapa sih harus menjadi ‘kombur” ( ngoceh ) secara nsional? Kenapa tidak dihajar saja sampai ke akar-akarnya? Densus kita, intelejen kita hebat kok, dunia sudah mengakuinya. Sampai kapan kita terus ngoceh? Sampai nanti timbul kesadaran lalu serempak kompak bertanya, “ ISIS? What Is this ? “

10 Agustus 2014

 

Wacajokolohna kesombongan cawapres sandal jepit buat Jokowi sudah terkubur di laut. Untuk menuju kursi puncak Jokowi tidak bisa hanya mengandalkan pesona dirinya saja, perlu pertolongan orang lain, perlu cawapres yang bisa menambah daya pikat. Bukan dalam tubuh internal PDIP tapi dari luar. Mumpung cawapres idamannya belum dilamar orang, Jokowi melamar pada NASDEM DAN PKB yang disambut positif oleh “calon mertua.” Entah siapa nanti salah satu dari kedua partai yang akan menyodorkan pendamping Jokowi. Mungkinkah Rhoma? Ah, terlalu. Mahfud? Pantasnya Mahfud Presiden, Jokowi wapres. Jadi nggak mungkin, nggak tahulah kalau Mahfud MD mau merendahkan dirinya sendiri.

Soal NASDEM jelas banyak keuntungan yang akan diperoleh Jokowi. Persoalan yang selama ini dikeluhkan Jokowi semasa kampanye pileg adalah iklan. Nasdem dengan Metro Tvnya bisa jadi corong baru Jokowi. Kedatangannya ke kubu Golkar yang mencapai kesepakartan saling membantu di parlemen jika salah satu Jokowi atau ARB yang nanti akan jadi presiden, bukan cuma soal perjanjian politik, tapi juga paling tidak meredam serangan TV One terhadap Jokowi.

Tinggal tersisa MNC Group milik Harry Tanoe yang akan nyinyir pada Jokowi. Tapi group televisi ini kan bukan tivi berita, jadi agak amanlah. Kalau buat ajang promosi, bisa saja Prabowo melamar ke Hanura, tapi belum ada kabar angin yang berhembus. Jika misalnya nanti terjadi koalisi Gerindra dengan Hanura, berarti akan ada tiga kubu televisi.

Menarik untuk disimak tayangan METRO TV ke depan, ke depannya lagi. Promosi terhadap Jokowi mungkin saja bukan dalam bentuk iklan, bisa saja dalam bentuk berita, diskusi, editorial. Dalam bentuk diskusi yang nampaknya netral jika misalnya mengundang semua capres, tapi perhatikan barisan pengamat Polotiknya. Pasti salah satunya adalah Boni Hargens. Sebagaimana dimaklumi, walaupun labelnya pengamat politik, tapi dia juga terangan-terangan pemuja Jokowi. Kalau toh menghadirkan pengamat yang lain, tentu Metro TV akan memilih pengamat yang lunak terhadap Jokowi.

Dalam bedah editorial mungkin juga akan ada perubahan misi terselubungnya. Perhatikan saja, bisa saja mengutip pakar yang Metro tahu tidak berseberangan dengan Jokowi, dan interaksi terhadap pemirsa yang dari dulu peneleponnya dari itu ke itu saja, isinya pembelaan terhadap Jokowi. Kita sekarang ber andai-andai. Jika nanti Jokowi terpilih sebagai Presiden, maka mau tidak mau Metro TV yang selama ini kritis terhadap pemerintah, mungkin saja akan melunak. Bedah Editorial Media Indonesia yang selama ini sangat tajam menegeritik pemerintah, minim kritik , kalau toh ada kritik ya dalam bentuk metafora. Namanya saja berandai-andai. Kita buktikan saja bersama,Yo!

jokpres

Tidak membicarakan Jokowi sehari saja mulut dan tangan terasa gatal, Jokowi memang “obat gatal “ paling ampuh sekarang ini. Gatal komentar tentu saja. Ruang publik telah dipenuhi oleh satu nama fenomenal ini seolah tidak ada sisa ruang buat nama lain. Jika ada nama lain, tetap dikaitkan dengan Jokowi. Siapa pun yang dibicarakan, tidak sedap rasanya jika tidak diberi bumbu Jokowi.

Mau bicara boneka yang kita tahu mainan anak-anak, tidak lucu jika tidak dikaitkan Jokowi. Bolehlah sekali-sekali dikaitan dengan Ical dalam konteks yang berbeda. Ical lebih pada sebutan boneka sebagai kata benda murni, benda yang dalam foto nampak dipeluk hangat-hangat mesra.

Tidak semua setuju Jokowi dikaitkan dengan boneka, terutama para pendukung dan pemuja jokowi, yang bukan pendukung juga seperti Thamrin Dahlan, dia tidak setuju istilah boneka, dia lebih setuju istilah romote control, bukan buat tivi tapi buat robot. Siapa robotnya? menurut Thamrin ya tidak kurang tidak lebih Jokowi. Siapa pemegang remotenya? Tentu saja Bu Mega. Ini kata Thamrin lho ya bukan kara kata saya, kalau nggak percaya baca saja, nih linknya: http://politik.kompasiana.com/2014/03/31/capres-ala-remote-control-643495.html
Yang nggak setuju silakan marahin Pak Thamrin saja.

Di media sosial lagi ramai membicarakan perihal ngamuknya sejumalh kader PDIP di Trenggalek gara-gara jokowi membatalkan mendadak kunjungannya ke Trenggalek. Saya memaklumi kemarahan kader PDIP itu, karean mereka telah cukup lelah menunggu kedatangan idolanya itu kurang lebih 8 jam. Sayangnya di tengah perjalanan, Jokowi sang Idola mendadak dipanggil pulang ke Jakarta oleh Bu mega sebagai pemegang — istilah Tahmrin Dahlan – remote controlnya. Sebelum saya dituduh penyebar fitnah, saya kasih link beritanya : http://www.merdeka.com/politik/8-jam-ditunggu-jokowi-tak-datang-kader-pdip-kesal-banting-meja.html

Tentu bukan kali pertama Mama Mega mencet romote, setidaknya yang diketahui publik. Ini kali yang kedua. Pertama, sewaktu dulu mendadak diajak ziarah ke makam Bung Karno. Lho kok ziarah harus pakai remote? Pasalnya, waktu itu tidak ada satu pun pejabat Pemrov DKI termasuk Ahok yang tahu keberadaan Jokowi. Dia seprti tiba-tiba menghilang sampai ada konfirmasi yang bersangkutan bolos ke Blitar diajak Mama Mega. “ Masa sedikit-sedikit harus minta izin,” alasan Jokowi waktu itu.

Persitiwa kemarahan kader PDIP Trenggalek itu menuai komentar yang mengerucut pada satu kata yang mungkin hampir tenggelam : Boneka. Kata ini jadi populer lagi. Jasmev pun nampaknya kesulitan menjawab komentar negatif itu. Bahkan ada yang nyindir agak kocak juga. Ada yang berandai-andai, jika nanti Jokowi jadi presiden, saat sedang mempin rapat kabinet tiba-tiba dipanggil mendadak Mama Mega, Jokowi akan meninggalkan rapat itu. Ada juga yang bilang nggak kalah kocaknya, jika nanti sedang menerima tamu negara, mendadak dipanggil Mama, Jokowi akan meninggalkan tamu itu.

Makanya Bu Mega, jangan sering pencet Remote Jokowi, kasihan kan Jokowi ditarik kesana kemari seperti layang-layang, mentang-mentang Ibu menyebut dia si Kurus. Kurus tapi kan bisa bikin gemuk Banteng.

 

jokowi_1803

Kesabaran yang bisa diterjemahkan pada prinsip “ aku rapopo” sebenarnya tidak cocok dalam dunia politik. “ Aku Rapopo” lebih cocok dalam dunia sufi. Mengacuhkan pelecehan,penghinaan yang ditujukan ke wajah pengusung prinsip “ Aku rapopo ” pertama, memerlukan keteguhan hati tingkat Wali, kedua, dalam dunia politik bisa saja “ Aku rapopo” diartikan sebagai tidak tahu harus menjawab apa, tidak tahu harus berbuat apa.

Sewaktu menjadi pekerja sebagai Gubrenur DKI, prinsip “ Aku rapopo” masih cocok. Ketika menerima sindiran, kritikan, dia cuma menjawab, “ yang penting kerja…kerja..kerja….” Tapi sebagai capres atawa politisi, prinsip “ Aku rapopo” tidak akan bertahan lama, hanya dalam waktu singkat dia akan luntur oleh hujan krirtikan, badai hujatan, dan panasnya persaingan.

Terbukti. “ Aku Rapopo” luntur oleh iklan Kutagih Janjimu yang ditayangkan di MNC group televisi milik pengusaha dan politisi Harry Tanoe. Rencanya Jokowi akan menuntut MNC group yang memproduksi dan menayangkan iklan itu, ditambah iklan itu menampilkan wajah Jokowi tanpa izin. (https://id.berita.yahoo.com/jokowi-berencana-gugat-mnc-grup-terkait-iklan-kutagih-101329370.html ) Padahal selama ini, saking populernya gambar jokowi dikhlaskan saja ditayangkan di mana-mana. Baik yang KW maupun yanga asli. Banyak orang yang kebagian rejeki oleh wajah Jokowi yang bersahaja itu.

Karena yang akan dituntut adalah pesaingnya dalam dunia politik, maka mau tidak mau tntutuan itu juga punya nilai politis walapun sebenarnya dalam peta persaingan polkitik, WIN-HT bukan lawan berat Jokowi, kuda hitam pun bukan.

Dengan lunturnya prinsip “Rapopo” Maka nampaklah wajah Jokowi sebagai politisi. Memang terjun dalam dunia politik ya mau tidak mau harus jadi politisi. Tidak bisa selamanya bersembunyi dalam wajah sufi. Sekarang prinsip “ Aku rapopo” lebih cocok disematkan pada wapres Boediono, karena dia memang bukan politisi.

30032014

 

Adaptasi bebas cerpen “Karya Seni”
Karya Anton Chekov

hantu 1

Dengan hati-hati Sasa meletakan tempat lilin di meja kerja Dokter Rudi.
“ Ini barang antik kesukaan ayahku,Dok. Konon kabarnya barang ini berusia ratusan tahun. Maha karya dari Eropa.”
Patung tempat lilin itu memang agak asing di mata Dokter Rudi. Patung seorang wanita memegang semacam obor olimpiade. Obor itu tempat menaruh tiga buah lilin besar. Seberapapun nilai barang itu hanya bisa dipahami oleh penggemar barang antik. Bagi Dokter Rudi barang itu tidak lebih mahal dari hape buatan Cina.

“ Bagaimana kabar Ayahmu? “ tanya Dokter Rudi. Sasa memahami pertanyaan itu sebagai pengalihan pembicaraan. Dia harus lebih meyakinkan lagi bahwa tempat lilin ini bukan tempat lilin biasa.

“ Baik. Dia sudah mulai bisa berjalan walau masih agak gemetar. Saya sengaja diutus datang ke mari memberikan hadiah ini sebagai rasa terima kasih atas perhatian Dokter yang begitu luar biasa merawat Ayah saya selama ini. Patung lilin ini dulu ada sepasang. Pasangannya tentu dokter menyangka patung laki-laki. Tidak. Dia sama persis dengan ini. Itulah yang membuat karya ini punya nilai lebih. Karya yang tidak mains tream pada zamannya. “ Sasa menjelaskan seperti sales yang seharian berjalan barangnya tidak laku-laku.

“Sewaktu pindahan, entah hilang ke mana. Saya sudah berusaha mencari di beberapa tempat barang antik, tapi belum ketemu. Biasanya barang antik yang punya nilai, ke manapun dia menghilang, kalau sudah jodoh dia akan kembali. Seperti Adam dan Hawa yang diturunkan dari Surga di tempat yang berbeda. “

“ Sampaikan terima kasihku pada Ayahmu. Mestinya sih tidak harus repot memberi hadiah. Menyembuhkan pasien sudah menjadi kewajiban saya.”

Dokter Rudi tidak menyangka barang itu akan menjadi masalah baru dalam rumah tangganya. Nyonya Rudi melotot ketakutan melihat tempat lilin itu. Nafasnya tidak normal. Bibibirnya gemetar mengucapkan, “ Grativikasi…grativikasi….”
“ Ini hadiah…”
“ Hadiah dari orang yang dituduh korupsi! “
“ Ayah Sasa hanya saksi kasus korupsi. Dia tidak terbukti terlibat. “
“ Terbukti tau tidak, saksi atau tersangka, sama saja. Hadiah apapun yang diberikan oleh orang yeng berada dalam pusaran kasus korupsi, namanya tetap grativikasi.”
“ Ayolah berpikr jernih. Ini hadiah…”
“ grativikasiii…! ”

Doker Rudi belum pernah mendengar istrinya teriak sekeras itu. Barang milik dokter selalu dibanggakan kebersihan, kesantunannya termasuk istri dokter. Mata melotot istri dokter gejala tidak baik. Ditambah bibir gematar, ditambah pula teriak yang sangat keras.

Dokter Rudi memang mengamati gejala truama baru negeri ini. Trauma grativikasi yang disebarkan oleh virus undang-undang pencucian uang. Hadiah dari seseorang setengah nabi pun bisa jadi malapetaka di kemudian hari. Uang jasa yang diberikan oleh pasiennya pun selalu dicurigai istrinya. Istrinya tidak setuju dia merawat ayah Sasa. Merawat saksi kasus korupsi bisa menyeretnya ke dalam pusaran kasus itu. Tapi sebagai dokter dia harus tetap bersikap profesional.

Cuma untuk perihal pemberian hadiah tempat lilin ini untuk kebaikan rumah tangganya dia harus mengalah. Tempat lilin itu bukan lagi benda antik, tapi sudah seperti mata hantu yang dikiirim oleh jin dari abad entah berapa. Mata hantu itu bisa saja menjadi saksi yang akan menyretnya ke dalam penjara sebagai penerima grativikasi terlepas dari apakah ayah sasa cuma saksi kasus korupsi. Sekali kena tuduh, terbukti atau tidak, hancurlah karirnya.

Untuk mengembalikannya kepada ayah Sasa sama saja dengan menuduh ayah Sasa terlibat korupsi, walaupun barang antik itu dia yakin bukan dibeli dari hasil korupsi. Istrinya meyarankan tempat lilin itu diberikan saja kepada kepala sekolah yang telah berjasa memasukan anaknya ke sokolah favorit yang sangat diidamkan oleh anaknya. Dokter Rudi setuju.

Kepala sekolah yang berjasa itu adalah kepala sekolah yang mempuyai istri yang juga dihantui oleh trauma gartivikasi.
“ Gratiivikasi,Pak…ini grartivikasi,Pak…” Sama dengan istri Dokter Rudi, istri Kepala Sekolah matanya melotot, bibirnya gemetar melihat tempat lilin itu.
“ Berapa sih harga tempat lilin ini? “ Kepala Sekolah sama dengan Dokter Rudi menganggap tempat lilin itu tidak lebih mahal dari hape Cina.
“ grativikasi bukan soal harga, tapi soal asal susul. Dokter Rudy kan yang merawat ayah Sasa si koruptor itu…”
”Hus! Saksi kasus korupsi.”
“ Sama saja! “

Hantu grativikasi yang berbentuk tempat lilin itu kini berpindah ke dalam rumah tangga Kepala Sekolah. Istri Kepala Sekolah menyarankan hantu itu diberikan saja pada keponakannya yang gemar pada barang antik. Kepala sekolah setuju.

Keponakan Kepala Sekolah adalah anak muda yang gemar barang antik. Dia cuma sekedar gemar saja. Tidak memahami nilai dan seluk beluknya. Kebetulan dia sedang bermasalah dengan keuangan. Beberapa barang antik kesukaanya sudah berpindah ke toko barang antik. Pucuk dicinta ulam tiba. Tempat lilin hadiah dari pamannya langung dibawanya ke pasar barang antik. Sasa yang kebetulan berada di pasar itu membelinya sebelum keponakan kepala sekolah menjualnya ke toko barang antik.

Sasa berhadapan dengan Dokter Rudi di ruang praktek Dokter Rudy. Beberapa saat dia tidak bicara, hanya tersenyum, tertawa, tersenyum lagi.
“ Pak Dokter masih ingatkan ucapan saya? “ Sasa tersenyum, tertawa.
“ Saya dulu pernah bilang, pasangan barang antik yang menghilang akan menemukan jodohnya kembali. Cuma soal waktu saja. Dan jodohnya datang dalam waktu yang lebih cepat dari dugaan saya.”
Sasa mengeluarkan tempat lilin yang baru saja di belinya. Dengan bangga diletakannya di meja kerja Dokter Rudi.

“ Taraaa…”

26032014