Arsip untuk September, 2013

bolaplastikTeringat masa kecil. Jika saya mau bermain bola bersama teman-teman, saya harus ikut iuran membeli  bola plastik. Jika tidak, saya cukup bengong saja di pinggir lapangan. Karena uang jajan terbatas, jika bolanya pecah, tidak mesti buru-buru beli bola baru. Cukup disumpel kertas atau kain. Bunyi bola plastik yang kami tendang punya suara khas,”jebret!” Apalagi  jika sudah disumpal plastik, jebretnya lebih khas.

Masyarakat awam seperti saya dan teman-teman atau orang tua saya walaupun tidak tahu teori bentuk onomatope, peniruan bunyi dalam berbahasa tapi kami “menciptakan” bahasa baru yang tidak ada dalam kamus. Menendang bola dengan keras kami sebut “jebret.” Rupanya warisan leluhur itu bertahan cukup lama hingga masa kecil Valentino si komentator “jebret.”  Teringat masa kecilnya, Valentino mengunakan kata itu ketika mengomentari piala AFF U19. Dulu kata itu bagi kami hal yang biasa, tapi sekarang menjadi luar biasa.

Walaupun Kamus Umum Bahasa Indonesia sudah beberapa kali direvisi, tapi bahasa yang diciptakan masyarakat kelas bawah seperti kata”jebret” tidak ada dalam kamus. Saya tidak tahu, kata apa yang digunakan bahasa resmi kita untuk tendangan keras yang emosional. Ada kata yang lebih tepat dari “jebret?”

Jajanan murah yang populer masa kecil adalah “ Es nong nong.” Es krim murah yang dijajakan dengan gerobak dorong, penjualnya tidak harus cape mulut menjajakan, cukup memukul kemong yang mengeluarkan bunyi “ nong nong nong.” Makanya disebut “Es nong nong.” Ada juga yang meyebut es putar karena proses pembutannya dengan diputar secara manual. Tapi “ Es nong nong” lebih populer hingga kini, walaupun penjualnya tidak lagi menggunakan kemong. Jangan harap kata ini ada dalam kamus, padahal es krim dan es nong nong berbeda, baik bentuk, rasa maupun cara membuatnya.

Jadi jangan heran bila persoalan kosa kata ini sampai terjadi perkosa kata oleh Vikcy karena memang KUBI terlalu sombong untuk  meilirik bahasa populer  yang beredar di masyarakat.

24 September 2013

Lain SBY, Lain As-Sisi

Posted: September 23, 2013 in Uncategorized
Tag:, , ,

Lain ladang lain bekeledai-320x174lalang.Belalang di Indonesia belalainya lebih lembut dibandingkan Mesir. Beberapa waktu lalu, di negeri ini ada yang demo membawa kerbau bertuliskan SiBuYa, tentu saja yang dimaksud adalah presiden SBY. Tentu saja membuat SBY kontroversi hati. Mau ditangkap, akan labil politik, tidak ditangkap bikin hati galau. Walhasil, dia cuma bisa curhat pada rakyat sambil memaki demokrasi dalam hati.

Di mesir, polisi di provinsi Qena menangkap seorang petani di kampung Asyraf Syarqiyah. Situs twesela.com seperti dikutip dakwatuna.com mengabarkan, dijebretnya petani itu karena dituduh menghina jenderal Abdel Fattah As-Sisi yang mengkudeta Mursi.

Petani iseng itu menunggang keledainya yang bertuliskan “Abdul Fattah As-Sisi”. Dia juga meletakkan seperti topi militer di kepala piaraannya itu. Dalam bahasa Arab “As-Sisi” bisa berarti keledai kecil. Keledai juga di arab menjadi simbol kedunguan. Tulisan “ Abdul Fattah” tentu saja menjebret langsung sang jendral.

Harapan sebagian rakyat Mesir yang juga didukung secara malu-malu  oleh Paman Sam dan konconya, kudeta As-Sisi diharapkan Mesir bisa lebih demkoratis. Padahal sih demokrasi bagi paman yang selalu menjajakan demokrasi itu tergantung siapa yang berkuasa. Asal jangan yang berkuasa kaum Muslim, demokrasi nggak penting.  Jadi jelas kan perbedaan demokrasi dengan demokrasi?

23 September 2013

 

Bukan Ibu tidak kuaAir Susu Ibut membeli susu, tapi air susu ibu  yang mengalir dalam tubuhmu–menurut ahli bahasa yang S3 di Amerika walau cuma kuliah beberapa bulan saja – bukan cuma soal “irigasi” tapi adalah cairan kasih “sayangisasi “ yang mengaliri hati, menjadi penawar” kontroversi hati.”

Ayah kalian telah” mengkudeta” hati ibu, juga kucing betina lain. Itu bentuk” konspirasi kenikmatan” yang cuma bisa dirasakan para kucing. Konspirasi itu bukan “mempertakut” atau “mempersuram”  masa depan para kucing, malah memperkuat dan” memperluber” air susu ibu.  Manusia yang makan tiga kali sehari, cuma sanggup menyusui satu anak, itu pun butuh makanan penunjang. Kalian bertiga bisa menyusu sekaligus. Air susu Ibu seperti kolam susu, kapan saja kalian mau

Di usia ibu yang sudah “6 my age ini” ibu sudah  memproduksi puluhan kucing yang tersebar di rumah-rumah, menjaga keseimbangan pertumbuhan kucing dan tikus. Kita telah berhasil “mengkudeta”  tikus di rumah-rumah berpenghuni. Walaupun kita juga suka mencuri ikan di dapur, tapi dibandingkan tikus, setidaknya kita menganut “bersihisasi, tidak jorokisasi. “ Kita tidak bisa buang hajat di sembarang tempat seperti yang Ibu ajarkan. Itu yang membuat” statutisasi “ kita lebih terhormat dibandingkan tikus.

Kemarin kamu lihat pertunjukan topeng monyet kan?  Monyet peliharaan itu harus kerja keras untuk mendapatkan sepotong makanan, berlagak seperti badut, diajarkan meniru manusia. Kita lebih beruntung, kalau kita tidak dapat ikan curian, masih banyak kemungkinan, kita bias memburu cicak, kadal, atau mencuri anak ayam di kandang tetangga. Intinya, Kucing tidak pernah “labil ekonomi.”

Kalian kemarin bertanya,” Kapan Ibu akan membuatkan rumah? “ Itu pertanyaan kucing teraneh. Kucing bebas memilih rumah mana saja dengan cuma satu syarat, beri tanda rumah itu dengan “kencingisasi.” Selesai. Gampang,kan?  Kencing bagi kita bukan sekedar melepaskan hajat, tapi menunjukan “satutisasi hegemoni  demarkasi anti kudeta.”  Paham? Kalau kalian belum paham, nanti kita komunikasikan lagi.

20 Sept,2013

Azwj7mlCEAAQMlw.jpg large

Illustrasi : Drs. Suryadi.twicsy.com

SCTV kembali menayangkan sinetron PESANTREN & ROCK N’ROLL ( Season 3 ) ditayangkan setiap hari pukul 18.00. Walaupun tidak mengklaim sebagai sinetron religi, Tapi dari pemilihan judul, seting, cerita, busana menunjukan kalau sinetron itu dimaksud sebagai religi paling tidak, maunya Islami.

Motinggo Busye, novelis, pengarang dan pemerhati budaya memberikan kreteria yang sangat ketat terhadap film Islami. Menurutnya, “ yang disebut film da’wah harus secara keseluruhan dikerjakan oleh orang-orang yang betul-betul mengerti dan sadar untuk apa film itu dibuat. Misalnya,penulis scenaraio, sutradara harus betul memahami apa yang ditulis dan dikerjakannya, seorang editor juga harus mengetahui bagian mana yang penting, tidak boleh dibuang meski bagian itu menurut pandangan editor harus dibuang. ” Bagi Motinggo, film “The Message” (sejarah Rasulullah) itu bukan film da’wah, sekedar film sejarah. “Masalahnya bukan dalam film itu dibacakan satu atau dua ayat, atau berpakaian ala Islam, tapi bagaimana bisa menonjolkan karakteristik Islam dalam film itu.” ( Lembar Budaya Harian MERDEKA, 23 Oktober 1982 )

Pendapat Motinggo itu bisa jadi benar. Pengalaman saya ketika saya menjadi co director sinetron seri “ Rubiah” (TPI) berlatar belakang kehidupan pesantren, saya menemukan banyak kesalahan yang cukup fatal pada penulisan scenario menyangkut soal penempatan maksud hadits dan ayat Qur’an. Belum lagi soal tata cara Ibadah. Beruntungnya saya sedikit banyak memahami soal itu hingga terpaksa saya setiap hari mencorat-coret (memperbaiki) scenario itu.

Okelah, saya turunkan saja stnadrad Motinggo, dan saya tutup mata saja kemungkinan ketidak tahuan atau kekurang pahaman penulis scenario atau sutradara pada soal agama. Soal kejar tayang bisa menjadi alasan. Saya menggaris bawahi soal jam tayang. Pukul 18.00 itu pas waktu maghrib. Itu persoalan utamanya.

Departemen Agama belum lama ini membuat gerakan nasional MAGHRIB MENGAJI. Di beberapa daerah pemda setempat sudah menggulirkan gerakan itu, mislanya Pemda Kepulaun Meranti, dan Tanjung Pinang, Riau. Mungkin masih banyak lagi yang tidak tercover. Tujuan gerakan itu mengembalikan tradisi mengaji terutama anak-anak dan remaja,habis sholat maghrib berjamaah sampai isya di Masjid dan Mushola yang dulu marak dilaksanakan, kemudian terkikis oleh modernisasi.

Sinetron “Pesantren & Rock N’Roll” yang sudah memsuki season 3 itu menunjukan sinetron ini banyak digemari terutama remaja, karena memang pemerannya remaja yang cantik dan ganteng. Dengan pemilihan waktu tayang pas waktu maghrib, maka otomatis sinetron ini menjadi “musuh” utama gerakan maghrib mengaji. Saya sih husnudzon (prasangka baik ) saja kepada SCTV mengingat jam tayang itu bukan persoalan sederhana, tapi terkadang muncul juga rasa suudzon (kecurigaan) saya hingga saya berpendapat, ini adalah sinetron yang bertopeng religi. Nampaknya ingin mengajarkan da’wah islam, tapi yang sebenarnya mengajak remaja untuk tetap betah di layar tivi mengabaikan sholat maghrib yang waktunya sempit itu apalagi mengaji. Dengan kata lain, sinetron bertopeng religi.

Daru, Jambe,27 April 2013

Nama Baru Sapi

Posted: September 15, 2013 in Uncategorized
Tag:, , ,
arthworks.blogspot.com. arthur sembiring

Illustrasi : arthworks.blogspot.com. arthur sembiring

Boleh percaya boleh tidak. Kisah ini terjadi pada sebuah negeri yang mungkinkita kenal, mungkin juga tidak. Berita kasus korupsi sudah bikin rakyat di negeri itu trauma nasional. Salah satu kasus yang paling heboh adalah korupsiimpor daging sapi.Sering disingkat menjadi kasus daging sapi.

Setiap mata terbuka, yang nampak berita korupsi daging sapi. Trauma nasioal terhadap kata “daging sapi” membuat rakyat curiga setiap melihat daging sapi, setiap melihat para pedagang daging sapi, bahkan setiap melihat sapi. Sapi sudah dianggap sebagai lambang korupsi.

Akhirnya rakyat sepakat kata “sapi” harus diganti dengan kata lain. Binatangnya boleh sama, tapi kalau namanya dirubah mungkin akan menghilangkan trauma itu. Nama kasusnya boleh saja “korupsi daging sapi.”

Akhirnya lagi, para pakar bahasa sepakattidak menghilangkan kata “sapi” dalam kamus bahasa, tapi artinya dirubah. Kata “Sapi” diartikan sebagai perbuatan penyuapan, makian, hal yang buruk sebagai personifikasi seseorang yang berkelakuan buruk.

Nama baru binatang sapi disosialisasikan. Sejak itu rakyat kembali memakan daging sapi, Sapi yang dulu dibiarkan lepas, dicari kembali. Perdagangan daging sapi kembali marak. O,ya. Saya belum memberitahu nama baru sapi ya..maaf saya lupa, namanya terlalu sulit buat diucapkan, kalau tidak salah ingat, ada kata “nah” depannya ada “Fa” tengahnya saya lupa.

Kecoa

Posted: September 15, 2013 in Uncategorized
Tag:

Kecoa insekta yang ak200px-Blaberus_giganteus_MHNT_dosrab di rumah kita, berdasarkan catatan Wikipedia, banyak jenisnya. Terbagi dalam 6 keluarga, dengan 3.500 spesies. Diantara spesies yang terkenal, ranking ketiga  adalah kecoa Asia, Blattella asahinai , panjangnya sekitar satu setengah centimeter. Walaupun panjangnya sama dengan kecoa Asia, tapi kecoa Jerman, Blattella germanica menduduki ranking kedua, barangkali karena dia Ras Eropa, sedikit lebih ganteng di mata kecoa lain. Rupanya Amerika bukan hanya terkenal artis Hollywoodnya saja ,kecoanya pun paling populer, ranking pertama. Kecoa Amerika,Periplaneta Americana, panjangnya 3 cm.

Beberapa waktu lalu, kecoa Amerika lebih terkenal lagi setelah menewaskan Edward Archbold, 32 tahun, warga Florida, Amerika. Lho kok bisa? Bermula dari Lomba Makan Kecoa dan Cacing. Arcbold berhasil menjadi juara dengan memakan beberapa belas kecoa dan cacing. Hadiahnya, Ular Piton.

Beberapa saat kemudian, Archbold langsung sakit, dan jatuh di depan sebuah toko, nyawanya tidak bisa tertolong. Belum jelas, apakah kecoa atau cacing penyebabnya, atau mungkin juga penyebab lain, karena peserta lain sehat wal afiat. Untuk sementara dan supaya nampak heboh, penyebabnya diberitakan disebabkan makan kecoa. Hmmm..barangkali kecoa Taliban menyusup diantara sebelas kecoa yang dimakan Archbold.

10 Okt.2012

alquran bwTahun enam puluhan, di pinggiran Jakarta, berdiriSD Muhamadiyah. Warga NU di daerah saya mau tidak mau menyekolahkan anaknya di SD Muhamadiyah termasuk saya karenawaktu itu cuma itu SD yang ada di daerah saya. SD yang berdiri di tengah kaum NU. Perlu diketahui, perseteruan NU dan Muhamadiyah waktu ituboleh dibilang seperti api dalam sekam. Saling menyalahkan, saling menyindir.

Bersekolah di sekolah Muhamadiyah membuat saya menjadi terheran-heran. Pelajaran Agama yang saya dapat di sekolah oleh Kakek saya ada beberapa yang yang disalahkan dan tidak boleh diterapkan dalam beribadah. Saya hanya boleh mempelajari pelajaran umum saja. Setiap hari pelajaran Agama, pulang sekolah saya harus menghadap Kakek saya. Dia mengatakan itu salah, ini yang benar.

Bukan cuma itu. Kakek saya melarang saya sholat jum’at di Masjid Muhamadiyah. Dia menyebut satu masjid dekat rumah saya yang disebutnya sebagai Masjid Muhamadiyah. Tentu saja larangan itu membuat saya penasaran. Walaupun lebihdekat rumah saya, karena teman-teman saya sholat Jum’at di Masjid seberang rumah saya, saya tidakpernah sholat jum’at di situ.

Ternyata sholat jum’at di Masjid yang oleh kakek saya disebut sebagai Masjid Muhamadiyah itu sangat menyenangkan, karena khutbahnya mudah saya pahami,jelas isinya, menarik pemaparannya. Di masjid NU biasanya khotibnya kakek-kakek dengan tubuh agak gemetar sambil memegang tongkat dengan bahasa Indonesia campur melayu. Bukan cuma suaranya yang tidak jelas, tapi juga bahasanya agak aneh, berkali-kali mengucapkan, “ bahwasanya daripada yang demikian Itu,” atau “ dari pada adalah yang mana,” semacam itulah. Terus terang saya sering tertidur mendengar khotbahnya.

Terpaksa saya berbohong pada kakek saya saat melapor. Saya katakan sholat jum’at di masjid NU, padahal saya sholat di Masjid Muhamadiyah. Tapi suatu saat akhirnya ketahuan juga ketika kakek saya menanykan isi khutbahnya. Rupanya kakek saya tahu khotbah itu diucapkan oleh khotib Muhamadiyah.

Setelah lulus SD saya mulai berfikir, apa sih yang membuat kakek saya galau? Saya mempelajari ajaran Muhamadiyah dan NU. Saya pakai pendapat keduanya. Tidak semua yang disebut bid’ah oleh Muhamadiyah itu saya yakini sebagai bid’ah, karena saya melihat alasannya banyak yang lemah dan bahkan terkadang dipaksakan. Contoh mutkahir saja misalnya soal haram merokok. Dalil soal mubazir dan bunuh diri bagi saya sangat tidak relevan.

Begitu juga apa yang disebut sebagai tradisi oleh warga NU tidak semuanya saya sepakati hanya berhenti padatradisi, karena banyak yang sudah dekat dengan musyrik. Tapi soal yasinan, tahlil saat ada yang meninggal masih saya jalankan,karena motivasi (niat ) dan caranya berbeda dengan yang dipraktekan generasi kakek saya. Saya tidak melihatnya itu sebagai bid’ah. Jumlah sholat taraweh tergantung di masjid tempat saya berjamaah, terkadang 20 plus 3 witir, terkadang 8 plus tiga witir.Saya ikut saja, tidak berhenti pada hitungan 8 saat di masjid yang 20 rakaat, juga tidakmenambah menjadi 20 saat sholat di masjid yang 8. Saya menghoramti sahabat Umar ra yang mempraktekan qiyamul lail pada bulan ramadhan secara berjamaah dengan jumlah 20 rakaat, terlebih lagi saya juga ikut Rasulullah yang menjalankan 8 raakaat, walaupun tidak secara berjamaah.

Sholat nisfu sya’ban yang ditentukan waktunya hanya boleh saat ba’da maghrib saja, tidak saya jalankan, pernah juga saya ikut menjalankannya ba’daIsya, bukan karena saya tidak hormat pada Imam Ghozali, karena ada yang beralasanyangmenurt saya agak aneh saja. Kalau dilaksanakan ba’da isya Malaikat yang mnembawa rapor ibadah kita sudah terbang ke langit menyetor rapor kita pada Allah.

Generasi kakek saya sudah tiada, generasi yang menggantikan nampaknya jauh lebih toleran menyikapi perbedaan paham yang bersifat furuiyah ini. Bahkan mungkin juga faham itu sudah berkolaborasi dalam dirinya, termasuk saya. Jadi saya bingung juga menjawab pertanyaan, apakah saya NU atau Muhamadiyah? Ya, saya Islam sajalah. Soal awal Ramadhan ya saya ikut pemerintah karena sidang isbatnya dihadiri oleh ormas yang berpaham NU dan berpaham Muhamadiyah walaupun ormasnya bukan bernama Muhamadiyah. Saya puasa hari rabu,10 Juli 2013. Semoga menjadi puasa yang berkualitas. Selamat menunaikan ibadah puasa.

9 Juli 2013