Saya Bukan NU, Bukan Muhammadiyah

Posted: September 9, 2013 in Uncategorized
Tag:,

alquran bwTahun enam puluhan, di pinggiran Jakarta, berdiriSD Muhamadiyah. Warga NU di daerah saya mau tidak mau menyekolahkan anaknya di SD Muhamadiyah termasuk saya karenawaktu itu cuma itu SD yang ada di daerah saya. SD yang berdiri di tengah kaum NU. Perlu diketahui, perseteruan NU dan Muhamadiyah waktu ituboleh dibilang seperti api dalam sekam. Saling menyalahkan, saling menyindir.

Bersekolah di sekolah Muhamadiyah membuat saya menjadi terheran-heran. Pelajaran Agama yang saya dapat di sekolah oleh Kakek saya ada beberapa yang yang disalahkan dan tidak boleh diterapkan dalam beribadah. Saya hanya boleh mempelajari pelajaran umum saja. Setiap hari pelajaran Agama, pulang sekolah saya harus menghadap Kakek saya. Dia mengatakan itu salah, ini yang benar.

Bukan cuma itu. Kakek saya melarang saya sholat jum’at di Masjid Muhamadiyah. Dia menyebut satu masjid dekat rumah saya yang disebutnya sebagai Masjid Muhamadiyah. Tentu saja larangan itu membuat saya penasaran. Walaupun lebihdekat rumah saya, karena teman-teman saya sholat Jum’at di Masjid seberang rumah saya, saya tidakpernah sholat jum’at di situ.

Ternyata sholat jum’at di Masjid yang oleh kakek saya disebut sebagai Masjid Muhamadiyah itu sangat menyenangkan, karena khutbahnya mudah saya pahami,jelas isinya, menarik pemaparannya. Di masjid NU biasanya khotibnya kakek-kakek dengan tubuh agak gemetar sambil memegang tongkat dengan bahasa Indonesia campur melayu. Bukan cuma suaranya yang tidak jelas, tapi juga bahasanya agak aneh, berkali-kali mengucapkan, “ bahwasanya daripada yang demikian Itu,” atau “ dari pada adalah yang mana,” semacam itulah. Terus terang saya sering tertidur mendengar khotbahnya.

Terpaksa saya berbohong pada kakek saya saat melapor. Saya katakan sholat jum’at di masjid NU, padahal saya sholat di Masjid Muhamadiyah. Tapi suatu saat akhirnya ketahuan juga ketika kakek saya menanykan isi khutbahnya. Rupanya kakek saya tahu khotbah itu diucapkan oleh khotib Muhamadiyah.

Setelah lulus SD saya mulai berfikir, apa sih yang membuat kakek saya galau? Saya mempelajari ajaran Muhamadiyah dan NU. Saya pakai pendapat keduanya. Tidak semua yang disebut bid’ah oleh Muhamadiyah itu saya yakini sebagai bid’ah, karena saya melihat alasannya banyak yang lemah dan bahkan terkadang dipaksakan. Contoh mutkahir saja misalnya soal haram merokok. Dalil soal mubazir dan bunuh diri bagi saya sangat tidak relevan.

Begitu juga apa yang disebut sebagai tradisi oleh warga NU tidak semuanya saya sepakati hanya berhenti padatradisi, karena banyak yang sudah dekat dengan musyrik. Tapi soal yasinan, tahlil saat ada yang meninggal masih saya jalankan,karena motivasi (niat ) dan caranya berbeda dengan yang dipraktekan generasi kakek saya. Saya tidak melihatnya itu sebagai bid’ah. Jumlah sholat taraweh tergantung di masjid tempat saya berjamaah, terkadang 20 plus 3 witir, terkadang 8 plus tiga witir.Saya ikut saja, tidak berhenti pada hitungan 8 saat di masjid yang 20 rakaat, juga tidakmenambah menjadi 20 saat sholat di masjid yang 8. Saya menghoramti sahabat Umar ra yang mempraktekan qiyamul lail pada bulan ramadhan secara berjamaah dengan jumlah 20 rakaat, terlebih lagi saya juga ikut Rasulullah yang menjalankan 8 raakaat, walaupun tidak secara berjamaah.

Sholat nisfu sya’ban yang ditentukan waktunya hanya boleh saat ba’da maghrib saja, tidak saya jalankan, pernah juga saya ikut menjalankannya ba’daIsya, bukan karena saya tidak hormat pada Imam Ghozali, karena ada yang beralasanyangmenurt saya agak aneh saja. Kalau dilaksanakan ba’da isya Malaikat yang mnembawa rapor ibadah kita sudah terbang ke langit menyetor rapor kita pada Allah.

Generasi kakek saya sudah tiada, generasi yang menggantikan nampaknya jauh lebih toleran menyikapi perbedaan paham yang bersifat furuiyah ini. Bahkan mungkin juga faham itu sudah berkolaborasi dalam dirinya, termasuk saya. Jadi saya bingung juga menjawab pertanyaan, apakah saya NU atau Muhamadiyah? Ya, saya Islam sajalah. Soal awal Ramadhan ya saya ikut pemerintah karena sidang isbatnya dihadiri oleh ormas yang berpaham NU dan berpaham Muhamadiyah walaupun ormasnya bukan bernama Muhamadiyah. Saya puasa hari rabu,10 Juli 2013. Semoga menjadi puasa yang berkualitas. Selamat menunaikan ibadah puasa.

9 Juli 2013

Iklan
Komentar
  1. mawi wijna berkata:

    Ditambah lagi semacam Syi’ah, Ahmadiyah, atau bahkan LDII jelas makin banyak “warna” yang membingungkan kan? Hehehe. Semua itu karena manusia bebas untuk menafsirkan Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s