Arsip untuk Oktober, 2013

tweet akil

tweet akil

Merdeka !

Terbebas dari penjajahan

Terbebas dari Kebodohan

Terbebas dari kemiskinan

Terbebas dari Ketidak adilan

Menuju adil makmur

Semoga!

Itu salah satu “puisi” Akil Mochtar yang ditweet pada tanggal 17 Agustus 2013. “Puisi” itu akhir-akhir ini banyak dicopas di dunia maya, dianggap sebagai pesan moral. Saya mencoba menafsirkan “puisi” itu dengan metode “Tafsir ngasal.”

Merdeka !

Penyairnya nampak seperti terbebas dari tuduhan korupsi yang sempat membuat perseteruannya dengan Refly Harun seperti mantan sepasang kekasih sampai terucap, “ Aku atau dia yang masuk penjara.” Walhasil, tidak ada yang masuk penjara. Penyairnya malah diangkat menjadi ketua MK menggantikan Mahfud MD. Merdekaaaa!

Terbebas dari penjahan

Penyairnya ingin mengatakan, dengan menjadi ketua MK tidak ada lagi yang bisa menjajahnya, termasuk Refly Harun, seteru utamanya.

Terbebas dari kebodohan

Untuk kalangan koruptor yang ketahuan, seperti Fathanah dan lainnya, oleh penyairnya dianggap sebagai kebodohan. Koruptor yang tidak ketahuan mungkin lebih banyak, merekalah orang-orang pintar, termasuk penyairnya yang terbebas dari jeratan tuduhan Refly harun.

Terbebas dari kemiskinan

Menambah korupsi tiga atau empat milyar lagi tentu akan menjauhkan diri dari godaan kemiskinan yang terkutuk.

Terbebas dari ketidak adilan

Keadilan bersifat relatif. Jika kita menang berperkara, maka kita menganggap itu adil. Jika kalah,maka tentu saja tidak adil. Sebagai Ketua MK, tentu penyairnya ingin mengatakan,”sayalah pemegang palu keadilan.” Haaah..Selamat tinggal ketidak adilan bagi diriku.

Menuju adil dan makmur

Karena penyairnya sudah memegang lisensi keadilan, maka tentu saja tujuannya adalah untuk memakumurkan diri sendiri dan keluarganya sebanyak- banyaknya

Semoga !

Harapan yang sangat besar ditandai dengan tanda seru ini, sayangnya bisa dijegal oleh KPK. Kata “semoga ! “ memang lebih layak kita sematkan pada KPK. Semoga tetap kuat menjegal harapan koruptur-koruptor lain.

Semoga !

imagesSeorang Imam sholat berjamaah lupa salah satu ayat dalam satu surah pendek, ma’mum di shaf pertama mengingatkan, sang imam melanjutkan, tapi tersendat kembali pada ayat berikutnya, padahal surah itu sudah sering dibacanya, akhirnya dia memutuskan membaca surah lain.

Lupa adalah salah satu sifat manusia, makanya tata tertib sholat berjamaah, shaf pertama orang yang juga hafal sekurang-kurangnya surah-surah pendek. Disamping untuk menggantikan imam jika imam tiba-tiba batal, juga bisa mengingatkan bacaan imam, atau gerakan lain dalam sholat. Untuk shaf wanita cukup mengingatkan dengan tepuk tangan.

Lain halnya dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Jika ada pemimpin atau pejabat yang lupa lirik lagu kebangsaan, maka bersiaplah untuk dicaci maki, dihujat, dianggap tidak nasionalis, dan semacamnya. Seolah-olah nasionalis sejati adalah orang yang tidak boleh lupa lirik lagu kebangsaan dalam kondisi apa pun. Menpora Roy Suryo dan aktivis Usman Hamid pernah merasakan “manisnya” hujatan dalam soal ini.

Jika Anda adalah seorang pejuang kemanusiaan,pejuang lingkungan, dan sebagainya yang tanpa publikasi, tanpa basa-basi, ikhlas demi negeri tercinta Indonesia tapi Anda lupa lirik lagu kebangsaan, maka Anda tetap dianggap tidak nasionalis.

Mengukur kecintaan Indonesia hanya dengan tidak boleh lupa lirik lagu kebangsaan sangat tidak relevan. Ketika ditanyakan kepada atlet yang dapat medali emas, bagaimana perasaannya mendengar lagu kebengsaan? Jawabannya, bangga dan terharu. Kesan bangga karena lagu Indonesia Raya yang indentik dengan Indonesia berkumandang di satu tempat yang dihadiri oleh orang-orang berbagai bangsa. Terharu karena berhasil menjadi juara, dan bisa mempersembahkan sesuatu buat bangsa. Tapi tidak ada yang pernah bertanya kepada tlet itu, Anda hafal lagu yang membuat Anda bangga itu? Coba nyanyikan.

Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia tidak menjamin seseorang atau sekolompok anak negeri ini tidak berpikir untuk memisahkan diri dari Indonesia, atau minta merdeka. Bisa karena beberapa sebab, bisa karena merasa diperlaukan tidak adil oleh Negara, atau masalah ketersinggungan keyakinan yang dianut di satu provinsi.
Kalau kita simak lirik lagu Indonesia Raya memang cuma berisi imbauan, rasa cinta, dan sejarah kemerdekaan bangsa.

Imbaun untuk bersatu dalam lirik
Marilah kita berseru Indonesia bersatu
Imbauan untuk membangun dalam lirik
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Rasa cinta pada Indonesia dalam lirik
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku

Bangsa dan Tanah Airku
Atau pada lirik
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Sejarah kemerdekaan bangsa dalam lirik

Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Tidak ada lirik yang bisa membuat anak negeri ini “cinta mati” pada Indonesia. Jadi bisa dimengerti, jika tersinggung sedikit saja pada soal keyakinan, atau merasa diperlakukan tidak adil, kontan minta lepas dari NKRI, seperti seorang istri yang mendengar suaminya selingkuh, kontan berteriak,”kembalikan aku kepada orang tuakuuuu.”

Padatahun 1979 Gombloh merilis lagu Kebyar-Kebyar yang fenomenal itu. Menyimak lirik lagu Kebyar-Kebyar, bukan cuma menimbulkan rasa cinta pada tanah air, atau sekedar imbauan membangun negeri, tapi juga bias menimbulkan rasa cinta mati terhadap Indonesia.

Indonesia …Merah Darahku, Putih Tulangku
Bersatu Dalam Semangatmu
Indonesia …Debar Jantungku,
Getar Nadiku Berbaur Dalam Angan-anganmu
Kebyar-kebyar, Pelangi Jingga
Biarpun Bumi Bergoncang Kau Tetap Indonesiaku
Andaikan Matahari Terbit Dari Barat
Kaupun Tetap Indonesiaku
Tak Sebilah Pedang Yang TajamDapat Palingkan Daku Darimu
Kusingsingkan Lengan
Rawe-rawe RantasMalang-malang Tuntas

Jika kita meresapi syair lagu ini, masihkah kita berpikir untuk merdeka dari NKRI, hanya karena merasa diperlakukan tidak adil? Walaupun kemerdekaan itu hanya sebatas wacana, atau satu kali saja terucap dari mulut anak negeri ini, bisa menujukan kecintaannya pada Indonesia belum pada tahap cinta mati.
Jika merasa diperlakan tidak adil, maka yang harus kita lawan dalah ketidak adilan itu ! Karena ketidak adilan itu belum menyebabkan bumi bergoncang, atau menyebabkan matahari terbit dari barat, atau sebilah pedang tajam yang mengacam nyawa kita. Kalau toh ketidak adilan menyebabkan semua itu terjadi, lirik lagu Gombloh itu dengan lantang mengatakan, “ Kau tetap Indonesiaku ! “

Saya menyarankan lagu Kebyar-Kebyar bisa dijadikan “lagu pendamping” lagu Indonesia Raya dinyanyikan setelah lagu Indoensia Raya pada setiap upacara bendera. Atau upacara resmi lainnya. Tentu saja tidak ada jaminan meniadakan sekolompok anak negeri yang minta merdeka, paling tidak bisa mempersempit wacana merdeka. Namanya juga usaha….

4 Oktober 2013

isg

isg

Perhelatan Islamic Game Solidarity (ISG ) memang gaungnya kurang terasa nyaring. Malah yang agak nyaring adalah pertanyaan, “Apa bedanya ISG dengan pertandingan olah raga tingkat internasional lainnya?” Tadinya munkin banyak orang membayangkan, paling tidak pakaian atletnya agak berbeda, karena membawa nama Islam. Kalau kita melihat pertandingan Voilly putri di kampung, kita bisa menyaksikan, tujuh puluh lima persen atlitnya menggenakan busana olah raga muslimah lengkap dengan jilbabnya. Tapi dalam ajang ISG, pakaian atletnya tidak berbeda dengan ajang internasional lain. Lalu apanya yang Islami?

Persaudaran Negara-negara Islam ini memang bukan terdiri dari Negara-negara Islam. Ada Negara Islam seperti Arab Saudi, ada Negara sekular yang mayoritas Islam seperti Indonesia dan Turki. Atltetnya juga terdiri dari berbagai Agama. Dan memang tidak ada aturan atletnya harus muslim. Mungkin Anda kurang mengenal latar belakang atletnya, tapi tentu Anda sangat mengenal pemaian sepak bola kita. Setidaknya bisa dijadikan keberagaman latar belakang keyakina atletnya.

Jadi tidaklah relevan jika ada pertanyaan, “Kenapa para atlet ISG tidak mengenakan busana olah raga muslim?” Karena ajang ini memang bukan perhelatan Negara-negara Islam. Sebagai gambaran, Turki misalnya, di Negara itu ada SK Pelarangan Jilbab bagi pegawai negeri sipil. Baru-baru ini memang SK itu telah dicabut, tapi masih terbatas pada pegawai negeri sipil. Kejaksaaan, kepolisian, dan angkatan bersenjata SK itu masih berlaku.

Jika ada yang bertanya, “ Lalu apa tujuan menyelenggarakan ajang olah raga yang berlabel Islam? “ Itu juga pertanyaan saya.