Arsip untuk Desember, 2013

Ini harimu ibu
Bukan hari perempuan

Perempuan yang menganggap
Profesi ibu sebagai keterkekangan
Jangan ambil bagian

Perempuan yang mendorong perempuan
meninggalkan rumahnya
menyerahkan anaknya pada pembantunya
jangan ambil bagian

Perempuan yang menganggap bakti pada suami
sebagai bentuk penindasan
Jangan ambil bagian

Perempuan yang medorong perempuan
Ke luar rumah tanpa harus izin suami
Jangan ambil bagian

Ini harimu ibu
Ibu yang ihlas menyerahkan seluruh waktunya
Mendampingi suaminya mendidik anak-anaknya

Ini harimu ibu
Ibu yang menyerahkan seluruh waktunya
Bekerja membantu ekonomi keluarganya
Tanpa melupakan sedetik pun
mendampingi suaminya mendidik anak-anaknya

Ini harimu ibu
Bukan hari perempuan

22122013

Foto Aku dan Ibukuaku dan ibuku

Iklan

Teman saya, M Djoko Yuwono punya teman, namanya Miftah H. Yusufpati Yususfpati, dia teman fesbuk saya. Miftah punya teman. Teman Miftah menulis di ststus fesbuknya soal kolom agama di KTP. Miftah menulis kembali status temannya itu di statusnya. Begini Statusnya:
ktp masa depan
“Ahok usul tak perlu mencantumkan agama di KTP. Temen ane pasang status begini:
KTP itu tak harus mencantumkan agama… agar tak terjadi diskriminasi perlakuan
KTP itu tak harus mencantumkan jenis kelamin…. demi kesetaraan gender
KTP itu tak harus mencantumkan alamat… agar orang jahat tak bisa men-trace alamat kita
KTP itu tak perlu mencantumkan tempat lahir… agar tdk ada orang Indonesia yang dibilang nDeso karena tempat lahirnya di pelosok.
KTP itu tak perlu mencantumkan tanggal lahir… agar orang ga ketahuan kalo sebenarnya dah tua.
KTP itu tak perlu mencantumkan nama… apa sih arti sebuah nama.
KTP itu nggak perlu.”

Komentar saya soal status ini,begini. Kalau alasan tak mencantumkan kolom Agama karena agar tak terjadi diskriminasi, maka pertanyaannya, siapa kelompok yang diskriminatif? Nggak mungkin lah minoritas, pasti sasarannya mayoritas. Siapa mayoritas? Tahu ah gelap. Nah, tuduhan itu bisa kemungkinan SARA.

Kalau mau menyembunyikan Agama, jangan tanggung-tanggung. Kalau kita melihat wanita berjilbab, nggak perlu repot-repot melihat katepenya, sudah bisa dipastikan muslimah. Kalau kita melihat hari minggu ada yang dengan bangga membawa alkitab, nggak usah melihat katepenya, sudah pasti dia kristiani. Kalau kita melewati masjid, orang-orang yang berada di dalam sudah pasti Islam. Kalau kita melewati gereja, sudah pasti orang di dalamnya Krsitiani. Begitu juga tempat ibadah lain.

Jadi, Agama sulit disembunyikan. Lagi pula malu lah sama sila pertama. Kalau memang nekad juga mau disemubnyikan, maka konsekwensinya adalah, bukan cuma menghilangkan kolom Agama di KTP. Tapi juga melarang penganut Agama memamakai atribut agamanya. Misalnya jilbab, peci haji,dan lainya. Melarang membawa Al kitab, Al Qur’an secara terang terangan. Tempat ibadah juga harus berbentuk rumah biasa, tanpa papan nama. Panggilan ibadah tidak diperbolehkan melalui azan, lonceng, genta dan sebagainya.Jika sudah masuk waktu ibadah, cukup SMS atau inbox fesbuk, dan semacamnya. Jika ada yang bertanya,” Agamamu apa? “ Jawab saja, “ Tahu ah, gelap.”

 Kalau kolom Agama dicurigai akan terjadi diskriminasi, maka kolom nama juga harus dihilangkan. Terkadang nama menunjukan Agama. Nama Balyanur Ahmad Munadi sudah pasti Islam. Nama Baptis yang biasa dipakai di depan nama asli, sudah pasti kristiani. Dan seterusnya dan seterusnya. Demi kesetaraan gender, dan juga tidak diskriminasi pada kelompok setengah laki setengah perempuan, maka kolom Jenis Kelamin juga harus dihilangkan.

Kolom lainnya yang harus dihilangkan dengan alasan tertentu, silakan baca kembali status diatas.Lalu apa yang tersisa? Cukup foto saja, itupun bagi perempuan dilarang memakai jilbab, bagi laki-laki dilarang berjenggot. Di KTP cukup ditulis dengan huruf besar : KASIH TAHU NGGAK YA?

17122013

KOMNAS KURANG KERJAAN

Posted: Desember 11, 2013 in Uncategorized
Tag:

 

greenyazahra.wordpress.com

 

 

 

 

 

“ Kau kelihatan cantik hari ini
Spa dimana?
Pujian atau pelecehan? ”


Kau cantik hari ini hari kemarin kemarinnya lagi
Aku tetapi memujimu hari ini hari besok hari besoknya lagi
Aku tak perduli komnas perempuan menganggap pelecehan
Walaupun aku dipenjarakan karena memuji kecantikanmu

Aku bukan anggota DPR yang takut kena gertak Komnas perempuan
Mungkin mereka terlalu banyak buat kesalahan
Padahal komnasdari jenis apa pun memang kurang kerjaan
Cuma Ahok yang berani melawan

Ibuku setia melayani ayahku dianggap penindasan perempuan
Pengabdian tulus perempuan menyiapkan generasi mendatang
Dari generasi ke generasi yang hebat cemerlang
Lahir dari perempuan tulus yang dianggap terbelakang

Perempuan yang mereka banggakan adalah yang pergi pagi pulang malam
Meninggalkan anaknya tawuran di jalanan
Membajak penumpang, Ahok menyebutnya bajingan
Komnas Anak menyebut Ahok kurang ajar

Betul

Komnas memang kurang kerjaan

11122013

 

agamaAda yang menarik dalam acara Debat di TV one, senin malam 9 Desember 2013. Nara sumber dari penghayat kepercayaan mengatakan, agama yang diakui oleh Negara ( Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindu,Kong Hu cu ) adalah agama impor. Berarti dengan kata lain “Agama” penghayat adalah “agama” aseli produk dalam negeri. Bahkan, kata nara sumber itu, penghayat sudah ada sebelum Indonesia lahir.

Saya sih tidak mau masuk dalam subtansi perdebatan itu yang menyoal pencantuman semua agama dan penghayat pada KTP. Biarlah itu sudah ada yang ngurus. Saya cuma tergelitik soal istilah agama impor itu. Berarti Tuhannya juga Tuhan impor. Islam Tuhan impor dari Arab. Kristiani Tuhan impor dari Eropa, Hindu Tuhan impor dari India, Budha Tuhan Impor dari Cina. Tuhan produk dalam negeri adalah milik para penghayat.

Sekali lagi, saya tidak tertarik bicara soal keberagaman kepercayaan. Itu hak masing-masing individu. Cuma istilah agama impor itu punya impilkasi yang luas.Produk Impor kan punya wilayah terbatas. Tuhan yang berasal dari Arab cuma punya kekuasan terbatas di tanah Arab. Tuhan dari Eropa punya kekuasan terbatas di Eropa. Lalu kalau keduanya mau invasi, nggak perlu repot menyadap, bukankah Tuhan maha mendengar?

Impilkasi lain dari istilah itu bagi penganut Agama samawi ( Islam, Kristen, Katholik, Yahudi ) adalah keberadaan umatnya. Pemeluk agama samawi optomatis adalah manusia impor karena kan mereka percaya sebagai keturunan Adam yang diturunkan ke bumi karena berdosa memakan buah terlarang. Karena saya penganut salah satu agama samawi itu, berarti saya bukan manusia produk lokal tapi manusia impor dari surga. Amin.

Kondom Dari Bu Menteri

Posted: Desember 8, 2013 in Uncategorized
Tag:,

Adul bangga dapat kondkondom buom katanya sih dari bu menteri. Mobil merah menyala bergambar jupe genit menantang. Abdul menyangka itu gambar bu menteri. Adul berlari dengan riang mendatangi teman-temannya.
“ Aku dapat kondom dari bu menteri… aku dapat kondom dari bu menteri..”

Adul menari sambil mengangkat kondom tinggi-tinggi. Walaupun sudah berusia lebih tiga puluh tahun, sifat Adul seperti anak-anak. Dia selalu menjadi sasaran kejahilan teman-teman temannya.

“ Dul, memangnya kamu tahu itu untuk apa? “ Tanya temannya
“ Kata pembantunya bu menteri buat kesehatan, mencegah penyakit menular,” jawab Abdul lugu.

 “ Memangnya kamu tahu cara memakainya?”

Adul seperti baru tersadar. Dia menatap aneh kondom itu. Menatap teman-temannya seolah bertanya.
Kembali dia meniliti kondom itu. “ Ini bukan obat ya? ” tanyanya lebih kepada diri sendiri.

Teman-temannya menahan tawa. Salah seorang menghampiri Adul. Berbisik di telinga Adul. Adul terbelalak. Kembali dia menatap keliling teman-temannya. Teman-temannya mengangguk.

“ Dul, kamu beruntung dapat kondom dari bu menteri. Menteri kesehatan lagi, ibunya para dokter. Demi kesehatan, kamu harus memakai seperti yang aku sarankan. Selesai mandi kamu pakai, mau mandi kamu buka, cuci, pakai lagi.Paham?”

Adul mengangguk. Wajahnya mulai kembali cerah.

Hari kedua setelah dia mengikuti saran temannya, Adul merasa tubuhnya lebih sehat, tapi juga dia mulai merasa tidak nyaman dan merepotkan. Adul ingin bertanya cara yang bisa bikin lebih nyaman kepada pembantu bu menteri.

Adul mencari mobil bu menteri di tempat dulu dia diberikan kondom itu. Tapi mobil itu sudah tidak ada lagi. Berhari-hari dia menunggu mobil bu menteri. Adul mulai merasa kecewa. Kebanggaannya mulai luntur. Dia menganggap bu menteri tidak lagi mau menemuinya. Adul mulai merasa tidak sehat.

5122013