Arsip untuk Januari, 2014

Awan Siapa yang Garamin?

Posted: Januari 16, 2014 in Uncategorized
Tag:
cloud_snow_flakes_fal

Bagi yang hobi narsis ada peribahasa, ” Air laut siapa yang garamin? ” Tapi rupanya garam bukan hanya milik laut, udara juga kebagian garam. Untuk mencegah banjir yang lebih parah, Pemda DKI bekerja sama dengan BNPB punya gawe merekayasa cuaca.

Peralatan yang digunakan pawang hujan moderen ini tentu saja bukan sapu lidi, tapi partikel generator, pos teknologi di beberapa lokasi di Jakarta, peralatan pesawat Hercules, dan sebagainya. Pawangnya juga dipastikan tidak komat-kamit membaca lapaz tertentu, tapi cuap-cuap dalam sejumlah wawancara dan konpres menjelaskan konsepnya. Intinya, awan akan disemai dengan cara menyemprot dengan berton garam.

Amplop buat pawang plus peralatannya tentu beda jumlah dengan pawang hujan tradisional. Pemda DKI saja sudah mengalokasikan 20 milyar, belum lagi dari instasi lain. Hujan rencananya akan dipindahkan ke laut. Nah, berarti garam di laut dipastikan tidak akan bertemu asam dari gunung, tapi akan bertemu garam dari awan. Dari garam kembali ke garam.

17012014

 

Lurah Susan Tersayang

Posted: Januari 14, 2014 in Uncategorized
Tag:,

lurah-susan-tak-ada-saat-jokowi-sambangi-kelurahan-lenteng-agung

Pada awal kepimpinan Jokowi, langsung menggebrak dengan blusukan ke setiap wilayah, lorong, gorong-gorong. Tidak ada satau lorong pun yang luput dari jejak kakinya. Gebrakannya ini bukan hanya membuat terkejut warga DKI, tapi juga para pejabat yang terbiasa melihat warganya dari belakang meja atau dari balik kaca mobil gelapnya.

Bagi para lurah dan camat, bukan sekedar terkejut, tapi bikin jantung berdegup lebih keras ditambah tekanan darah naik, syukur-syukur bisa turun lagi. Nasib sial bagi lurah atau camat yang ketika didatangi Jokowi tidak berada di tempat. Apa pun alasannya. Misalnya ada staff kecamatan dengan lutut gemetar mengatakan pak camat sedang rapat di walikota. Dan camat naas itu pun setelah ditelepon bawahannya, meninggalkan kantor walikota terbirit-birit naik ojeg, walaupun akhirnya sampai di garis finish tetap tidak bertemu Jokowi. Dalam hati Jokowi mungkin bisa menerima alasan itu, tapi karena sudah kadung marah, alasan itu disampan saja dalam hati. Sudah dapat ditebak nasib camat itu. Diberitakan mangkir kerja, dan dibully oleh pasukan jokowi di media sosial.

Tapi nasib Lurah Susan, pengayom warga Lenteng Agung nasibnya lebih beruntung. Enrtah karena lurah hasil lelang yang harus di jaga martabatnya, atau karena memang lurah kesayangan Jokowi. Merdeka.com memberitakan, Jum’at (10/1) Jokowi mendadak mampir di kantor kelurahan Lenteng Agung. Kebetulan Lurah Susan tidak berada di tempat. Marahkah Jokowi? Tentu saja tidak. “Saya enggak cari bu Lurah (Susan), saya menilai pelayanan kok,” jelas Jokowi. Jokowi memuji pelayanan di kantor kelurahan itu yang menurutnya sudah bagus,sesuai dengan keinginannya. Kalau sudah begitu, tidak penting lagi di mana dan sedang apa Lurah Susan.

14012014

Jokohok

Mobil pribadi memang menjadi kembanggaan. Semakin bagus mobilnya semakin tinggi “derajatnya.” Tapi tidak bagi Jokowi-Ahok. Bagi Jokowi, semakin jelek kendaraan yang dinaikinya,semakin tinggi derajatnya. Jumat pertama bulan Januari 2014, Jokowi mengendarai sepeda ke Balai Kota. Wuiih.. puja-puji mengalir ke balai kota. Sorenya, dia pulang naik Bajay..waaah pundi-pundi pujiannya bertambah buanyaaak. Keringat yang terkuras karena bersepeda dan berbajay ria terbayar lunas.

Ahok? Mobil dinas yang adem ayem tenterem malah bikin gerah. Dihujani pertanyaan yang menyebalkan. Dijawab salah,nggak dijawab salah. Seribu jurus tangkisan sudah diperagakan, tetap saja protes, sindiran, makian memenuhi pundi-pundi kebanggaanya selama ini. Selama menjadi wagub, baru kali ini dia malas membaca komentar di media. Beruntung para pemujanya masih ada juga yang membela.

Ternyata kendaraan bisa juga bikin celaka tanpa harus menabrak atau ditabrak.

Jumat Menyebalkan

Posted: Januari 3, 2014 in Uncategorized
Tag:,
Ahok Melamun

Hari senin adalah hari yang paling banyak dibenci oleh para pekerja. Salah satu alasannya, hari minggu ke senin cuma berjarak satu hari, sedangkan senin ke minggu berjarak enam hari. Hari sabtu adalah hari yang dibenci oleh orang yang baru putus cinta. Beribu kenangan manis mengejeknya. Hari jumat adalah hari yang paling ditakuti oleh tersangka koruptor. Pintu penjara KPK siap melahap tersangka koruptor pada hari jumat keramat itu.

Bagi Ahok, hari jumat adalah hari yang paling menyebalkan. Ketika dia ikut memaraf Ingub nomor seratus lima puluh tentang larangan penggunaan kendaraan pribadi ke kantor setiap hari jumat pekan pertama tiap bulan bagi PNS di lingkungan Pemda DKI, mungkin terjadi perang batin dalam dirinya. Tapi hatinya agak tenang. PNS? Hmmmm dia kan bukan PNS.

Jumat yang menyebalkan itu pun datang sesuai jadwal. Mobil dinas Toyota Land Cruiser B 1966 RFR melaju gagah di tengah kota. Tapi tidak bagi pengendaranya. Walaupun mobil itu cukup nyaman, Ahok nampak gelisah. Dia membayangkan, wartawan telah siap mengokang mikerofon yang akan memberondongnya dengan pertanyaan seragam.
“ Kok Bapak masih pake mobil dinas? Bukankah ini jumat pertama…..”
“ Pak Jokowi datang mengendarai sepeda. Bapak tahu itu? “

Walapun dalam mobil itu cukup dingin, dia nampak seperti kegerahan. Dia melihat serombongan pegawai dengan seragam khas betawi berjubel dalam bis kota. Beberapa bawahannya itu nampak menoleh heran ke arahnya. Mereka seolah mengadilinya. Baru kali ini dia merasa diadili oleh anak buahnya. Ahok membatin,“ Hei, kamu berangkat pagi, pulang sore. Saya pulang sampai malam bahkan larut malam. Kamu mau kerja seperti saya? Kalau mau, oke. Saya akan ikut gelantungan dalam bis itu.”

Sebuah pertanyaan terngiang di telinganya
“ Bapak ikut menanda tangani ingub…”
Pertanyaan itu segara dijawabnya. Sejak tadi dia memang sudah menyiapkan beberapa jawaban.
“ Instruksi hanya bagi PNS bukan bagi gubernurdan wakil gubernur.”
“ Tapi Pak Jokowi naik sepeda? “
“ Iya. Dia kan dekat rumahnya. Coba deh, memangnya kamu mau naik sepeda dari pluit ke balai kota? Harus dikawal pula. Repot kan? Belum lagi soal effensiensi waktu.”

Rancangan dan pertanyaan dan jawaban itu buyar. Mobil Land cruiser memasuki Balai Kota. Wajah para wartawan seperti melihat mobil yang baru datang dari luar angkasa. Lalu wajah-wajah itu berubah seperti singa lapar. Berita wagub naik mobil dinas hari jumat ini seperti makanan yang lezat dan bergizi. Dengan tenang Ahok menjawab semua pertanyaan seperti yang tadi telah dirancangnya. Pertanyaan yang mudah dijawab. Wartawan sekarang banyak anak-anak baru yang pertanyaannya mudah ditebak.

Ahok duduk sambil menghela nafas panjang di ruang kerjanya. Baru Jumat pertama. Dia juga tahu rencana gubernur yang akan menerapkan pada setiap jumat dan bahkan setiap hari. Jumat yang menyebalkan. Tapi Ahok lebih sebal lagi pada segala bentuk pencitraan. Pencitraan pejabat seperti mahasiswa yang dipelonco. Demi pencitraan, pejabat memelonco dirinya sendiri. Membuat susah dirinya sendiri. Buat apa ada mobil dinas? Supaya kerja lebih effesien kan? Kenapa malah memilih membuang waktu di jalan? Waktu yang bisa lebih produktif tercecer di jalan! Ahok kembali menghela nafas panjang.

03012014

DOA OPLOSAN

Posted: Januari 1, 2014 in Uncategorized
Tag:,
Mayat_97

Kamu berdoa
“selamat. Semoga tahun depan
hidupmu lebih baik.”
Lafazmu bau oplosan
Jalanmu sempoyongan

Sering aku bilang
Air setan itu haram
Sudah banyak korban bergelimpangan
Kamu bilang, mati urusan Tuhan
Tuhan kamu campur
dalam sebotol oplosan

Sekarang kamu mati beneran
Tidak sempat melihat tahun baru
yang kamu gantungkan di leherku harapan
Aku bingung doa apa aku panjatkan
pada Tuhan yang sengaja kamu lawan

Aku cuma bisa katakan
“ selamat menempuh kehidupan baru
di alam tanpa oplosan, tanpa harapan
cegugkcegukcegukceguk.”

01012014