Arsip untuk Maret, 2014

jokowi_1803

Kesabaran yang bisa diterjemahkan pada prinsip “ aku rapopo” sebenarnya tidak cocok dalam dunia politik. “ Aku Rapopo” lebih cocok dalam dunia sufi. Mengacuhkan pelecehan,penghinaan yang ditujukan ke wajah pengusung prinsip “ Aku rapopo ” pertama, memerlukan keteguhan hati tingkat Wali, kedua, dalam dunia politik bisa saja “ Aku rapopo” diartikan sebagai tidak tahu harus menjawab apa, tidak tahu harus berbuat apa.

Sewaktu menjadi pekerja sebagai Gubrenur DKI, prinsip “ Aku rapopo” masih cocok. Ketika menerima sindiran, kritikan, dia cuma menjawab, “ yang penting kerja…kerja..kerja….” Tapi sebagai capres atawa politisi, prinsip “ Aku rapopo” tidak akan bertahan lama, hanya dalam waktu singkat dia akan luntur oleh hujan krirtikan, badai hujatan, dan panasnya persaingan.

Terbukti. “ Aku Rapopo” luntur oleh iklan Kutagih Janjimu yang ditayangkan di MNC group televisi milik pengusaha dan politisi Harry Tanoe. Rencanya Jokowi akan menuntut MNC group yang memproduksi dan menayangkan iklan itu, ditambah iklan itu menampilkan wajah Jokowi tanpa izin. (https://id.berita.yahoo.com/jokowi-berencana-gugat-mnc-grup-terkait-iklan-kutagih-101329370.html ) Padahal selama ini, saking populernya gambar jokowi dikhlaskan saja ditayangkan di mana-mana. Baik yang KW maupun yanga asli. Banyak orang yang kebagian rejeki oleh wajah Jokowi yang bersahaja itu.

Karena yang akan dituntut adalah pesaingnya dalam dunia politik, maka mau tidak mau tntutuan itu juga punya nilai politis walapun sebenarnya dalam peta persaingan polkitik, WIN-HT bukan lawan berat Jokowi, kuda hitam pun bukan.

Dengan lunturnya prinsip “Rapopo” Maka nampaklah wajah Jokowi sebagai politisi. Memang terjun dalam dunia politik ya mau tidak mau harus jadi politisi. Tidak bisa selamanya bersembunyi dalam wajah sufi. Sekarang prinsip “ Aku rapopo” lebih cocok disematkan pada wapres Boediono, karena dia memang bukan politisi.

30032014

 

Adaptasi bebas cerpen “Karya Seni”
Karya Anton Chekov

hantu 1

Dengan hati-hati Sasa meletakan tempat lilin di meja kerja Dokter Rudi.
“ Ini barang antik kesukaan ayahku,Dok. Konon kabarnya barang ini berusia ratusan tahun. Maha karya dari Eropa.”
Patung tempat lilin itu memang agak asing di mata Dokter Rudi. Patung seorang wanita memegang semacam obor olimpiade. Obor itu tempat menaruh tiga buah lilin besar. Seberapapun nilai barang itu hanya bisa dipahami oleh penggemar barang antik. Bagi Dokter Rudi barang itu tidak lebih mahal dari hape buatan Cina.

“ Bagaimana kabar Ayahmu? “ tanya Dokter Rudi. Sasa memahami pertanyaan itu sebagai pengalihan pembicaraan. Dia harus lebih meyakinkan lagi bahwa tempat lilin ini bukan tempat lilin biasa.

“ Baik. Dia sudah mulai bisa berjalan walau masih agak gemetar. Saya sengaja diutus datang ke mari memberikan hadiah ini sebagai rasa terima kasih atas perhatian Dokter yang begitu luar biasa merawat Ayah saya selama ini. Patung lilin ini dulu ada sepasang. Pasangannya tentu dokter menyangka patung laki-laki. Tidak. Dia sama persis dengan ini. Itulah yang membuat karya ini punya nilai lebih. Karya yang tidak mains tream pada zamannya. “ Sasa menjelaskan seperti sales yang seharian berjalan barangnya tidak laku-laku.

“Sewaktu pindahan, entah hilang ke mana. Saya sudah berusaha mencari di beberapa tempat barang antik, tapi belum ketemu. Biasanya barang antik yang punya nilai, ke manapun dia menghilang, kalau sudah jodoh dia akan kembali. Seperti Adam dan Hawa yang diturunkan dari Surga di tempat yang berbeda. “

“ Sampaikan terima kasihku pada Ayahmu. Mestinya sih tidak harus repot memberi hadiah. Menyembuhkan pasien sudah menjadi kewajiban saya.”

Dokter Rudi tidak menyangka barang itu akan menjadi masalah baru dalam rumah tangganya. Nyonya Rudi melotot ketakutan melihat tempat lilin itu. Nafasnya tidak normal. Bibibirnya gemetar mengucapkan, “ Grativikasi…grativikasi….”
“ Ini hadiah…”
“ Hadiah dari orang yang dituduh korupsi! “
“ Ayah Sasa hanya saksi kasus korupsi. Dia tidak terbukti terlibat. “
“ Terbukti tau tidak, saksi atau tersangka, sama saja. Hadiah apapun yang diberikan oleh orang yeng berada dalam pusaran kasus korupsi, namanya tetap grativikasi.”
“ Ayolah berpikr jernih. Ini hadiah…”
“ grativikasiii…! ”

Doker Rudi belum pernah mendengar istrinya teriak sekeras itu. Barang milik dokter selalu dibanggakan kebersihan, kesantunannya termasuk istri dokter. Mata melotot istri dokter gejala tidak baik. Ditambah bibir gematar, ditambah pula teriak yang sangat keras.

Dokter Rudi memang mengamati gejala truama baru negeri ini. Trauma grativikasi yang disebarkan oleh virus undang-undang pencucian uang. Hadiah dari seseorang setengah nabi pun bisa jadi malapetaka di kemudian hari. Uang jasa yang diberikan oleh pasiennya pun selalu dicurigai istrinya. Istrinya tidak setuju dia merawat ayah Sasa. Merawat saksi kasus korupsi bisa menyeretnya ke dalam pusaran kasus itu. Tapi sebagai dokter dia harus tetap bersikap profesional.

Cuma untuk perihal pemberian hadiah tempat lilin ini untuk kebaikan rumah tangganya dia harus mengalah. Tempat lilin itu bukan lagi benda antik, tapi sudah seperti mata hantu yang dikiirim oleh jin dari abad entah berapa. Mata hantu itu bisa saja menjadi saksi yang akan menyretnya ke dalam penjara sebagai penerima grativikasi terlepas dari apakah ayah sasa cuma saksi kasus korupsi. Sekali kena tuduh, terbukti atau tidak, hancurlah karirnya.

Untuk mengembalikannya kepada ayah Sasa sama saja dengan menuduh ayah Sasa terlibat korupsi, walaupun barang antik itu dia yakin bukan dibeli dari hasil korupsi. Istrinya meyarankan tempat lilin itu diberikan saja kepada kepala sekolah yang telah berjasa memasukan anaknya ke sokolah favorit yang sangat diidamkan oleh anaknya. Dokter Rudi setuju.

Kepala sekolah yang berjasa itu adalah kepala sekolah yang mempuyai istri yang juga dihantui oleh trauma gartivikasi.
“ Gratiivikasi,Pak…ini grartivikasi,Pak…” Sama dengan istri Dokter Rudi, istri Kepala Sekolah matanya melotot, bibirnya gemetar melihat tempat lilin itu.
“ Berapa sih harga tempat lilin ini? “ Kepala Sekolah sama dengan Dokter Rudi menganggap tempat lilin itu tidak lebih mahal dari hape Cina.
“ grativikasi bukan soal harga, tapi soal asal susul. Dokter Rudy kan yang merawat ayah Sasa si koruptor itu…”
”Hus! Saksi kasus korupsi.”
“ Sama saja! “

Hantu grativikasi yang berbentuk tempat lilin itu kini berpindah ke dalam rumah tangga Kepala Sekolah. Istri Kepala Sekolah menyarankan hantu itu diberikan saja pada keponakannya yang gemar pada barang antik. Kepala sekolah setuju.

Keponakan Kepala Sekolah adalah anak muda yang gemar barang antik. Dia cuma sekedar gemar saja. Tidak memahami nilai dan seluk beluknya. Kebetulan dia sedang bermasalah dengan keuangan. Beberapa barang antik kesukaanya sudah berpindah ke toko barang antik. Pucuk dicinta ulam tiba. Tempat lilin hadiah dari pamannya langung dibawanya ke pasar barang antik. Sasa yang kebetulan berada di pasar itu membelinya sebelum keponakan kepala sekolah menjualnya ke toko barang antik.

Sasa berhadapan dengan Dokter Rudi di ruang praktek Dokter Rudy. Beberapa saat dia tidak bicara, hanya tersenyum, tertawa, tersenyum lagi.
“ Pak Dokter masih ingatkan ucapan saya? “ Sasa tersenyum, tertawa.
“ Saya dulu pernah bilang, pasangan barang antik yang menghilang akan menemukan jodohnya kembali. Cuma soal waktu saja. Dan jodohnya datang dalam waktu yang lebih cepat dari dugaan saya.”
Sasa mengeluarkan tempat lilin yang baru saja di belinya. Dengan bangga diletakannya di meja kerja Dokter Rudi.

“ Taraaa…”

26032014

Boneka dari Solo

Posted: Maret 14, 2014 in Uncategorized
Tag:, ,

 

“Yang penting pagi sayaboneka-jokowi-ahok-_120808142702-346 ke sini, pekerjaan yang menumpuk sudah saya tanda tangani semua, ya, sudah. Masak sedikit-sedikit izin,” jawab Jokowi perihal bolosnya ke Blitar. Jawaban itu nampak seperti jawaban yang terpaksa diucapkan. Jokowi telah berusaha jujur dengan jawaban itu. Dia memang bukan pejabat yang suka ngeles dengan berbagai alasan yang nggak masuk akal.  Megawati yang mengajak bolos ke  Blitar membuat Jokowi seperti pejabat yang  bisa disetir oleh pemimpin Partai. Tentu dalam hati Jokowi tidak ingin seperti itu, tapi kata tuah yang diharapkan olehnya dan juga berjuta pendukungnya sangat diharapkan keluar dari mulut indah dan berwibawa Megawati. Keputusan Jokowi sebagai Capres PDIP!

Barangkali banyak pemuja Jokowi yang menganggap bolos satu hari lebih baik daripada korupsi. Tentu saja bolos adalah korupsi juga. Korupsi waktu. Tapi ada hal yang lebih penting. PDIP tidak bisa menjaga “kehormatan” kader terbaiknya. Peristwa bolos itu ada dua hal mendasar yang (mungkin) akan menurunkan “kehormatan” Jokowi di mata masyarakat, kecuali tentu saja di mata para pemujanya. Dan juga akan menyulitkan kinerja Jokowi selanjutnya.

Pertama. Saat Jokowi blusukan ke kantor kelurahan, kecamatan, walikota, Jokowi marah besar jika pegawai dan pejabat yang tidak berada di tempat tanpa alasan yang sahih. Ketika wartawan “sidak” ke Balaikota menanyakan keberdaan Jokowi, Ahok mengaku tidak tahu. Siapa yang akan marah besar pada Jokowi? Ahok? Walapun Ahok berani marah sama Mendagri, mustahil dia berani marahin Jokowi. Nah, jika suatu saat Jokowi blusukan lagi dan mendapatkan Lurah, Camat, atau Walikota bolos, apakah dia masih “tega” marah seperti dulu? Bukankah Jokowi telah memberi contoh dengan kalimat singkat yang akan selalu diiingat bawahannya, “ masa sedikit sedikit izin.”

Kedua. Jika nanti (Insya Allah ) Jokowi jadi presiden, apakah Jokowi bisa melepaskan diri dari “hipnotis” Megawati? Sewaktu-waktu Megawati bisa memanggil presiden Jokowi kapan saja dia mau? Apakah presiden RI nanti adalah Megawati yang berwujud Jokowi? atau Jokowi rasa Megawati?

Saran buat PDIP. Kok kalian tega-teganya memamerkan kader terbaik kalian seperti boneka dari Solo yang bisa dimainkan sesukanya. Ayo, jangan ulangi kesalahan, blunder yang sama. Mari jaga “kehormatan” pria kurus dari Solo yang akan bikin gemuk Partai Anda, dan bikin sehat Indonesia!

28 Maret 2014