Arsip untuk April, 2014

 

Wacajokolohna kesombongan cawapres sandal jepit buat Jokowi sudah terkubur di laut. Untuk menuju kursi puncak Jokowi tidak bisa hanya mengandalkan pesona dirinya saja, perlu pertolongan orang lain, perlu cawapres yang bisa menambah daya pikat. Bukan dalam tubuh internal PDIP tapi dari luar. Mumpung cawapres idamannya belum dilamar orang, Jokowi melamar pada NASDEM DAN PKB yang disambut positif oleh “calon mertua.” Entah siapa nanti salah satu dari kedua partai yang akan menyodorkan pendamping Jokowi. Mungkinkah Rhoma? Ah, terlalu. Mahfud? Pantasnya Mahfud Presiden, Jokowi wapres. Jadi nggak mungkin, nggak tahulah kalau Mahfud MD mau merendahkan dirinya sendiri.

Soal NASDEM jelas banyak keuntungan yang akan diperoleh Jokowi. Persoalan yang selama ini dikeluhkan Jokowi semasa kampanye pileg adalah iklan. Nasdem dengan Metro Tvnya bisa jadi corong baru Jokowi. Kedatangannya ke kubu Golkar yang mencapai kesepakartan saling membantu di parlemen jika salah satu Jokowi atau ARB yang nanti akan jadi presiden, bukan cuma soal perjanjian politik, tapi juga paling tidak meredam serangan TV One terhadap Jokowi.

Tinggal tersisa MNC Group milik Harry Tanoe yang akan nyinyir pada Jokowi. Tapi group televisi ini kan bukan tivi berita, jadi agak amanlah. Kalau buat ajang promosi, bisa saja Prabowo melamar ke Hanura, tapi belum ada kabar angin yang berhembus. Jika misalnya nanti terjadi koalisi Gerindra dengan Hanura, berarti akan ada tiga kubu televisi.

Menarik untuk disimak tayangan METRO TV ke depan, ke depannya lagi. Promosi terhadap Jokowi mungkin saja bukan dalam bentuk iklan, bisa saja dalam bentuk berita, diskusi, editorial. Dalam bentuk diskusi yang nampaknya netral jika misalnya mengundang semua capres, tapi perhatikan barisan pengamat Polotiknya. Pasti salah satunya adalah Boni Hargens. Sebagaimana dimaklumi, walaupun labelnya pengamat politik, tapi dia juga terangan-terangan pemuja Jokowi. Kalau toh menghadirkan pengamat yang lain, tentu Metro TV akan memilih pengamat yang lunak terhadap Jokowi.

Dalam bedah editorial mungkin juga akan ada perubahan misi terselubungnya. Perhatikan saja, bisa saja mengutip pakar yang Metro tahu tidak berseberangan dengan Jokowi, dan interaksi terhadap pemirsa yang dari dulu peneleponnya dari itu ke itu saja, isinya pembelaan terhadap Jokowi. Kita sekarang ber andai-andai. Jika nanti Jokowi terpilih sebagai Presiden, maka mau tidak mau Metro TV yang selama ini kritis terhadap pemerintah, mungkin saja akan melunak. Bedah Editorial Media Indonesia yang selama ini sangat tajam menegeritik pemerintah, minim kritik , kalau toh ada kritik ya dalam bentuk metafora. Namanya saja berandai-andai. Kita buktikan saja bersama,Yo!

Iklan

jokpres

Tidak membicarakan Jokowi sehari saja mulut dan tangan terasa gatal, Jokowi memang “obat gatal “ paling ampuh sekarang ini. Gatal komentar tentu saja. Ruang publik telah dipenuhi oleh satu nama fenomenal ini seolah tidak ada sisa ruang buat nama lain. Jika ada nama lain, tetap dikaitkan dengan Jokowi. Siapa pun yang dibicarakan, tidak sedap rasanya jika tidak diberi bumbu Jokowi.

Mau bicara boneka yang kita tahu mainan anak-anak, tidak lucu jika tidak dikaitkan Jokowi. Bolehlah sekali-sekali dikaitan dengan Ical dalam konteks yang berbeda. Ical lebih pada sebutan boneka sebagai kata benda murni, benda yang dalam foto nampak dipeluk hangat-hangat mesra.

Tidak semua setuju Jokowi dikaitkan dengan boneka, terutama para pendukung dan pemuja jokowi, yang bukan pendukung juga seperti Thamrin Dahlan, dia tidak setuju istilah boneka, dia lebih setuju istilah romote control, bukan buat tivi tapi buat robot. Siapa robotnya? menurut Thamrin ya tidak kurang tidak lebih Jokowi. Siapa pemegang remotenya? Tentu saja Bu Mega. Ini kata Thamrin lho ya bukan kara kata saya, kalau nggak percaya baca saja, nih linknya: http://politik.kompasiana.com/2014/03/31/capres-ala-remote-control-643495.html
Yang nggak setuju silakan marahin Pak Thamrin saja.

Di media sosial lagi ramai membicarakan perihal ngamuknya sejumalh kader PDIP di Trenggalek gara-gara jokowi membatalkan mendadak kunjungannya ke Trenggalek. Saya memaklumi kemarahan kader PDIP itu, karean mereka telah cukup lelah menunggu kedatangan idolanya itu kurang lebih 8 jam. Sayangnya di tengah perjalanan, Jokowi sang Idola mendadak dipanggil pulang ke Jakarta oleh Bu mega sebagai pemegang — istilah Tahmrin Dahlan – remote controlnya. Sebelum saya dituduh penyebar fitnah, saya kasih link beritanya : http://www.merdeka.com/politik/8-jam-ditunggu-jokowi-tak-datang-kader-pdip-kesal-banting-meja.html

Tentu bukan kali pertama Mama Mega mencet romote, setidaknya yang diketahui publik. Ini kali yang kedua. Pertama, sewaktu dulu mendadak diajak ziarah ke makam Bung Karno. Lho kok ziarah harus pakai remote? Pasalnya, waktu itu tidak ada satu pun pejabat Pemrov DKI termasuk Ahok yang tahu keberadaan Jokowi. Dia seprti tiba-tiba menghilang sampai ada konfirmasi yang bersangkutan bolos ke Blitar diajak Mama Mega. “ Masa sedikit-sedikit harus minta izin,” alasan Jokowi waktu itu.

Persitiwa kemarahan kader PDIP Trenggalek itu menuai komentar yang mengerucut pada satu kata yang mungkin hampir tenggelam : Boneka. Kata ini jadi populer lagi. Jasmev pun nampaknya kesulitan menjawab komentar negatif itu. Bahkan ada yang nyindir agak kocak juga. Ada yang berandai-andai, jika nanti Jokowi jadi presiden, saat sedang mempin rapat kabinet tiba-tiba dipanggil mendadak Mama Mega, Jokowi akan meninggalkan rapat itu. Ada juga yang bilang nggak kalah kocaknya, jika nanti sedang menerima tamu negara, mendadak dipanggil Mama, Jokowi akan meninggalkan tamu itu.

Makanya Bu Mega, jangan sering pencet Remote Jokowi, kasihan kan Jokowi ditarik kesana kemari seperti layang-layang, mentang-mentang Ibu menyebut dia si Kurus. Kurus tapi kan bisa bikin gemuk Banteng.