Arsip untuk September, 2014

SBY-Partai-Demokrat-kongresDalam teori akting ada tiga kelas akting. Good acting, over acting, under acting. Good acting bila aktor bisa memerankan dengan baik karakter tokohnya hingga penonton lupa tokoh itu sedang dimainkan oleh seorang aktor. Over acting bila aktor bermain berlebihan dalam perannnya, banyak kita lihat dalam kebanyakan sinetron kita. Marah yang kehilangan arah, nangis yang cuma mengandalkan airmata, dan sebagainya. Under acting bila kita tidak bisa melihat perbedaan antara aktor dan perannya. Datar saja.Kalihatan sekalai aktor itu sedang ngekting.

Dalam keriuhan politik RUU Pilkada, partai Demokrat menampilkan sandiwara yang mudah terbaca. Para aktornya kelas under acting. Kalau PDIP. PKB, Hanura  sempat tertipu oleh sandiwaranya, karena mereka sedang dalam tekanan psikologis saja. Reaksi SBY atas walkoutnya Demokrat, sama saja under aktingnya. Makanya nggak heran kalau aktingnya mudah ketebak.

Tapi bukan cuma partai demokrat yang sedang berakting. Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat juga berkating, tapi mereka kelas good acting, walau sekali-sakali kelas over acting ketika mulai panik di paripurna. Cut! Bungkuuuus.

Iklan

hamdan-mk-131108cKita sudah terbiasa memilah-milah wajah dalam spesifikasi tertentu. Wajah cantik dan ganteng hanya di letakan dalam kelompok artis. Jika ada artis yang berwajah tidak cantik atau ganteng maka diragukan keartisannya. Padahal yang bukan artis banyak yang tidak kalah cantik dan gantengnya. Tengok saja tetangga kita, perhatikan wajahnya dengan seksama, bayangkan jika dia memakai gincu atau memakai pakaian tertentu yang biasa dipakai oleh artis. Pasti tidak kalah cantik atau gantengnya dengan artis. Bahkan bisa jadi lebih ganteng, sehingga tanpa sadar mulut kita bergumam, hmmm ganteng-ganteng tetangga gue. Bisa jadi pacar lima langkah nih…

 

Atau bayangkan begini. Ketika sang artis ganteng masih cengar cengir di ruang casting beserta puluhan pelamar lainnya, wajahnya biasa-biasa saja. Badannya selalu membungkuk kepada petugas casting atau seseorang yang berwajah sutradara. Seperti apa wajah sutradara? Yang pasti  kurang gantenglah. Karena sutradara digambarkan memakai topi ala Putu Wijaya, calon artis ini membungkuk lebih dalam ketika bertemu dengan seseorang berpenampilan seperti itu. Padahal dia pedagang bakmi di depan rumah produksi. Ketika petugas casting memperkenalkan, ini sutradaranya mau melihat akting kamu. Sang calon artis menatap seperti tidak percaya.

Ini pengalaman pribadi saya ketika dulu saya masih menjadi co director di sebuah sinetron seri. Sebut saja judulnya “Culunnya Pacarku.” Seperti biasa ketika sebuah sinetron mulai turun ratingnya, dimunculkan tokoh baru. Celakanya tokoh baru itu akan ditayangkan dua hari lagi. Lebih celaka lagi, pemeran tokoh baru itu saat seluruh crew sudah siap di lokasi  belum ketahuan orangnya.

Unit produksi membisikan,pemeran tokoh baru sudah datang. Ternyata orang oyang ditunggu-tunggu adalah remaja kurus, tidak terlalu tinggi, wajahnya biasa-biasa saja.Namanya Reza Rahadian nama yang sekarang sangat populer. Pada waktu itu nama yang seumur-umujr baru dengar. Kecelakaan berikutnya dia mengaku belum pernah sekalipun  berkating di layar kaca. Dalam hati saya menyumpah pelaksana produksii yang nekad mengirim orang baru untuk peran yang lumayan berat ini. Untuk minta pengganti sudah tidak mungkin. Dua hari lagi mau tayang! Director Ismali Sofyan Sani berkali-kali menggeleng-elengkan sambil senyum kecut.

Karakternya  adalah pemuda yang buta, sejak kecil tidak pernah kena  sinar matahari di sekap di sebuah gudang, oleh kakaknya akan dibebaskan ke dunia luar.Terpaksa saya mengeluarkan semua kemampuan akting saya untuk memberi contoh,  walaupun dalam hati saya tidak yakin remaja yang kurang ganteng ini mampu melakukannya. Tapi setelah satu dua kali latihan,ternyata dia mampu berakting lebih bagus dari saya! Saya mulai curiga jangan-jangan di bohong kalau ini pertama kali aktingnya di layar kaca. Tapi memang begitulah kenyataannya. Sekarang Reza Rahadian sudah jadi aktor hebat. Karena dia berada di jajaran selebritis, secara alami persepsi kegantengannya menyertainya pula.

Selain artis, memiliki wajah ganteng bisa jadi berkah juga.  Dulu Jhony Indo dikenal sebagai perampok ganteng. Setelah keluar dari nusa kambangan dia jadi bintang film, sekarang jadi dai.  Di zaman sosmed ini mulai dikenal  ada pemulung ganteng, ada polisi ganteng, ada satpam ganteng, ada menteri ganteng.

Wajah ganteng SBY salah satu factor yang mengantarkannya menjadi presiden dua kali berturut-turut. Tapi Prabowo kurang beruntung. Wajah gantengnya yang disamakan dengan Al putra Ahmad Dani dikalahkan oleh wajah Jokowi yang disamakan dengan Dede OVJ. Karena sudah menjadi presiden terpilih, ya aura kegantengan Jokowi yang secara berseoloroh dia menyebutnya sama dengan Dude Herlino mulai nampak juga.

Hamdan Zoelva hakim MK dari dulu tidak ada yang mengulas wajahnya. Tapi setelah dia memenangkan kubu Jokowi, kegantengannya mulai ramai dibicarakan oleh kaum hawa di sosmed. Apakah Hamdan tetap ganteng jika misalnya dia memenangkan kubu Prabowo? Entahlah.

 

Tangerang, 29 Agustus 2014

 

 

What ISIS?

Posted: September 29, 2014 in Uncategorized
Tag:,

ISIS cuma sekumpulan kecil semut yang dengan sekali tiup saja lari tunggang lwhatanggang, atau sekali injak saja mati semua atau paling tidak cedera serius. Tapi entah kenapa tiba tiba jadi seperti ribuan gajah yang menghancurkan sawah ladang pikiran kita?

ISIS cuma setetes embun yang dengan sekali usap saja, masuk ke dalam pori-pori, tapi kenapa tiba-tiba mereka seperi tsunami yang memporak randakan simpati kita pada Palestina? Menenggelamkan kebiadaban Israel di Gaza?

Kalau ISIS bukanlah semut kenapa dia tidak bisa menguasai Irak negeri kecil tempat markas mereka? Kenapa ISIS baru berani berulah setelah tentara Amerika pulang mudik? Kenapa kita yang nun jauh di sini malah ketakutan belebihan pada ISIS?

Kalau ISIS bukan setetes embun, kenapa dia tidak bisa menang lawan pemerintah Suriah? Padahal dunia tahu semua, Eropa dan Amerika dulu membantu perjuangan mereka? Kenapa kita yang nun jauh di sini menganggap ISIS akan bisa mendirikan khilafah di Indonesia? Ada urusan apa mereka dengan kita? Mau bikin khilafah lintas Negara seperti masa ke kahlifahan dulu? Anak-anak ingusan seperti ISIS bisa apa mereka? Bahkan Ikhwanul Muslimin saja yang berkuasa secara konstitusional, secara demokratis, ditumbangkan dengan cara tidak demkortis dan dicap teroris. Bahkan Hamas saja yang jelas menang pemilu dan berjuang demi tanah airnya juga dicap teroris. Ketika semua Negara kompak memerangi teroris, bagaimana caranya ISIS mewujudkan cita-cita gilanya itu?

Sama seperti cerita teroris yang akan mendidrikan Negara berdasarkan Islam di sini kalau mereka berhasil membunuh kepala Negara. Lha rakyatnya memang dianggap patung semua? Membiarkan teroris lengggang kangkung ke istana depan monas sana? Memangnya kepala Negara sama dengan kepala ular yang jika dipenggal kepalanya, mati semua? Bahkan capres yang memenangkan pilpres 56 persesn suara saja masih terjanggal di MK. Masa teroris yang jumahnya nol koma nol koma nol bisa berkuasa di Indonesia? Dongeng klasik yang sudah nggak menarik lagi, lebih menarik dongeng moderen Roro Jonggrang dan Dayang Sumbi masuk penjara karena berkelahi main jambak-jambakan saat syuting film.

Teroris sejak zaman doeloe sampai sekrarang memang ada, cuma namanya saja berbeda. Di sini teroris jadi bulan-bulanan Denus 88, itu belum tentara kita turun tangan, ditambah lagi dana besar yang selalu siap setiap saat digelontorkan buat memerangi teroris. Jadi apa yang bikin rakyat panik pada ISIS? Apa karena mereka berani corat coret tembok? Ah,soal itu mah serahin saja sama babinsa,binamas, sebentar juga ketangkep, atau maksimal bantuan polsek. Kalau sampai sekarang anak nakal yang corat coret tembok itu belum ketangkep juga, ya..nggak tahulah.
Dunia nggak bakal kalah sama teroris, percaya deh. Cuma orang gila yang mau jadi teroris, dan jumlah orang gila itu sangat sangat sedikit. Memang dulu walau sedikit banyak juga yang populer dan bikin keder, tapi kan Osama, Nurdin M Top, dokter Azhari, Imam smadura cs kan sudah jadi cacing tanah. Sekarang tinggal recehannya saja, tapi kenapa tiba-tiba muncul kepanikan pada ISIS?

Media televisi terkadang jadi biang kerok juga. Sewaktu TV One mewawancari menterti Tifatul Sembring, hostnya menanyakan kepada pak menteri, “Memang susah ya menghapus konten propaganda ISIS? “ menteri menjawab sudah ada Sembilan propaganda ISIS yang di hapus. Sang host bertanya lagi, “ Tapi masih banyak yang bisa diakses?” dengan nada mengecilkan kerja sang menteri. Padahal..saat wawancara berlangsung TV One berkali-kali menayangkan video propaganda ISIS. Kenapa pak Menteri tidak bertanya, “ Anda juga bantu dong..masa saya disusruh menghapus, Anda terus saja menayangkan video ISIS.” Kalau saya jadi mentri, langsung saya siram wajah hostnya dengan air teh. Media masa sadar atau tidak sadar sudah menjadi humas ISIS.

Media masa juga memuat komentar bapak-bapak yang terhormat tentang pengaruh ISIS. ISIS dikabarkan berhasil membaiat teroris yang ada dalam penjara. Bagaimana bisa? Siluman macam apa ISIS ini hingga bisa masuk ke dalam ruang yang dijaga super ketat? Bahkan yang dibaiat itu jika keluar dari tahanan saja harus dikawal oleh pasukan bertopeng lengkap dengan senjata mesin dan berkacamata seperti Matrix, gagah seperti polisi luar negeri dalam film-film action.

Mulai dari presiden dan bawahannya, mulai dari ulama dan ormas Islam, politisi sampai para pengamat semua bicara ISIS. Rakyat yang tadinya nggak tahu ISIS jadi sedikit tahu, yang sudah tahu jadi tambah tahu. Kalau mau diberantas, kenapa sih harus menjadi ‘kombur” ( ngoceh ) secara nsional? Kenapa tidak dihajar saja sampai ke akar-akarnya? Densus kita, intelejen kita hebat kok, dunia sudah mengakuinya. Sampai kapan kita terus ngoceh? Sampai nanti timbul kesadaran lalu serempak kompak bertanya, “ ISIS? What Is this ? “

10 Agustus 2014