Posts Tagged ‘jokowi’

 

Wacajokolohna kesombongan cawapres sandal jepit buat Jokowi sudah terkubur di laut. Untuk menuju kursi puncak Jokowi tidak bisa hanya mengandalkan pesona dirinya saja, perlu pertolongan orang lain, perlu cawapres yang bisa menambah daya pikat. Bukan dalam tubuh internal PDIP tapi dari luar. Mumpung cawapres idamannya belum dilamar orang, Jokowi melamar pada NASDEM DAN PKB yang disambut positif oleh “calon mertua.” Entah siapa nanti salah satu dari kedua partai yang akan menyodorkan pendamping Jokowi. Mungkinkah Rhoma? Ah, terlalu. Mahfud? Pantasnya Mahfud Presiden, Jokowi wapres. Jadi nggak mungkin, nggak tahulah kalau Mahfud MD mau merendahkan dirinya sendiri.

Soal NASDEM jelas banyak keuntungan yang akan diperoleh Jokowi. Persoalan yang selama ini dikeluhkan Jokowi semasa kampanye pileg adalah iklan. Nasdem dengan Metro Tvnya bisa jadi corong baru Jokowi. Kedatangannya ke kubu Golkar yang mencapai kesepakartan saling membantu di parlemen jika salah satu Jokowi atau ARB yang nanti akan jadi presiden, bukan cuma soal perjanjian politik, tapi juga paling tidak meredam serangan TV One terhadap Jokowi.

Tinggal tersisa MNC Group milik Harry Tanoe yang akan nyinyir pada Jokowi. Tapi group televisi ini kan bukan tivi berita, jadi agak amanlah. Kalau buat ajang promosi, bisa saja Prabowo melamar ke Hanura, tapi belum ada kabar angin yang berhembus. Jika misalnya nanti terjadi koalisi Gerindra dengan Hanura, berarti akan ada tiga kubu televisi.

Menarik untuk disimak tayangan METRO TV ke depan, ke depannya lagi. Promosi terhadap Jokowi mungkin saja bukan dalam bentuk iklan, bisa saja dalam bentuk berita, diskusi, editorial. Dalam bentuk diskusi yang nampaknya netral jika misalnya mengundang semua capres, tapi perhatikan barisan pengamat Polotiknya. Pasti salah satunya adalah Boni Hargens. Sebagaimana dimaklumi, walaupun labelnya pengamat politik, tapi dia juga terangan-terangan pemuja Jokowi. Kalau toh menghadirkan pengamat yang lain, tentu Metro TV akan memilih pengamat yang lunak terhadap Jokowi.

Dalam bedah editorial mungkin juga akan ada perubahan misi terselubungnya. Perhatikan saja, bisa saja mengutip pakar yang Metro tahu tidak berseberangan dengan Jokowi, dan interaksi terhadap pemirsa yang dari dulu peneleponnya dari itu ke itu saja, isinya pembelaan terhadap Jokowi. Kita sekarang ber andai-andai. Jika nanti Jokowi terpilih sebagai Presiden, maka mau tidak mau Metro TV yang selama ini kritis terhadap pemerintah, mungkin saja akan melunak. Bedah Editorial Media Indonesia yang selama ini sangat tajam menegeritik pemerintah, minim kritik , kalau toh ada kritik ya dalam bentuk metafora. Namanya saja berandai-andai. Kita buktikan saja bersama,Yo!

jokpres

Tidak membicarakan Jokowi sehari saja mulut dan tangan terasa gatal, Jokowi memang “obat gatal “ paling ampuh sekarang ini. Gatal komentar tentu saja. Ruang publik telah dipenuhi oleh satu nama fenomenal ini seolah tidak ada sisa ruang buat nama lain. Jika ada nama lain, tetap dikaitkan dengan Jokowi. Siapa pun yang dibicarakan, tidak sedap rasanya jika tidak diberi bumbu Jokowi.

Mau bicara boneka yang kita tahu mainan anak-anak, tidak lucu jika tidak dikaitkan Jokowi. Bolehlah sekali-sekali dikaitan dengan Ical dalam konteks yang berbeda. Ical lebih pada sebutan boneka sebagai kata benda murni, benda yang dalam foto nampak dipeluk hangat-hangat mesra.

Tidak semua setuju Jokowi dikaitkan dengan boneka, terutama para pendukung dan pemuja jokowi, yang bukan pendukung juga seperti Thamrin Dahlan, dia tidak setuju istilah boneka, dia lebih setuju istilah romote control, bukan buat tivi tapi buat robot. Siapa robotnya? menurut Thamrin ya tidak kurang tidak lebih Jokowi. Siapa pemegang remotenya? Tentu saja Bu Mega. Ini kata Thamrin lho ya bukan kara kata saya, kalau nggak percaya baca saja, nih linknya: http://politik.kompasiana.com/2014/03/31/capres-ala-remote-control-643495.html
Yang nggak setuju silakan marahin Pak Thamrin saja.

Di media sosial lagi ramai membicarakan perihal ngamuknya sejumalh kader PDIP di Trenggalek gara-gara jokowi membatalkan mendadak kunjungannya ke Trenggalek. Saya memaklumi kemarahan kader PDIP itu, karean mereka telah cukup lelah menunggu kedatangan idolanya itu kurang lebih 8 jam. Sayangnya di tengah perjalanan, Jokowi sang Idola mendadak dipanggil pulang ke Jakarta oleh Bu mega sebagai pemegang — istilah Tahmrin Dahlan – remote controlnya. Sebelum saya dituduh penyebar fitnah, saya kasih link beritanya : http://www.merdeka.com/politik/8-jam-ditunggu-jokowi-tak-datang-kader-pdip-kesal-banting-meja.html

Tentu bukan kali pertama Mama Mega mencet romote, setidaknya yang diketahui publik. Ini kali yang kedua. Pertama, sewaktu dulu mendadak diajak ziarah ke makam Bung Karno. Lho kok ziarah harus pakai remote? Pasalnya, waktu itu tidak ada satu pun pejabat Pemrov DKI termasuk Ahok yang tahu keberadaan Jokowi. Dia seprti tiba-tiba menghilang sampai ada konfirmasi yang bersangkutan bolos ke Blitar diajak Mama Mega. “ Masa sedikit-sedikit harus minta izin,” alasan Jokowi waktu itu.

Persitiwa kemarahan kader PDIP Trenggalek itu menuai komentar yang mengerucut pada satu kata yang mungkin hampir tenggelam : Boneka. Kata ini jadi populer lagi. Jasmev pun nampaknya kesulitan menjawab komentar negatif itu. Bahkan ada yang nyindir agak kocak juga. Ada yang berandai-andai, jika nanti Jokowi jadi presiden, saat sedang mempin rapat kabinet tiba-tiba dipanggil mendadak Mama Mega, Jokowi akan meninggalkan rapat itu. Ada juga yang bilang nggak kalah kocaknya, jika nanti sedang menerima tamu negara, mendadak dipanggil Mama, Jokowi akan meninggalkan tamu itu.

Makanya Bu Mega, jangan sering pencet Remote Jokowi, kasihan kan Jokowi ditarik kesana kemari seperti layang-layang, mentang-mentang Ibu menyebut dia si Kurus. Kurus tapi kan bisa bikin gemuk Banteng.

 

jokowi_1803

Kesabaran yang bisa diterjemahkan pada prinsip “ aku rapopo” sebenarnya tidak cocok dalam dunia politik. “ Aku Rapopo” lebih cocok dalam dunia sufi. Mengacuhkan pelecehan,penghinaan yang ditujukan ke wajah pengusung prinsip “ Aku rapopo ” pertama, memerlukan keteguhan hati tingkat Wali, kedua, dalam dunia politik bisa saja “ Aku rapopo” diartikan sebagai tidak tahu harus menjawab apa, tidak tahu harus berbuat apa.

Sewaktu menjadi pekerja sebagai Gubrenur DKI, prinsip “ Aku rapopo” masih cocok. Ketika menerima sindiran, kritikan, dia cuma menjawab, “ yang penting kerja…kerja..kerja….” Tapi sebagai capres atawa politisi, prinsip “ Aku rapopo” tidak akan bertahan lama, hanya dalam waktu singkat dia akan luntur oleh hujan krirtikan, badai hujatan, dan panasnya persaingan.

Terbukti. “ Aku Rapopo” luntur oleh iklan Kutagih Janjimu yang ditayangkan di MNC group televisi milik pengusaha dan politisi Harry Tanoe. Rencanya Jokowi akan menuntut MNC group yang memproduksi dan menayangkan iklan itu, ditambah iklan itu menampilkan wajah Jokowi tanpa izin. (https://id.berita.yahoo.com/jokowi-berencana-gugat-mnc-grup-terkait-iklan-kutagih-101329370.html ) Padahal selama ini, saking populernya gambar jokowi dikhlaskan saja ditayangkan di mana-mana. Baik yang KW maupun yanga asli. Banyak orang yang kebagian rejeki oleh wajah Jokowi yang bersahaja itu.

Karena yang akan dituntut adalah pesaingnya dalam dunia politik, maka mau tidak mau tntutuan itu juga punya nilai politis walapun sebenarnya dalam peta persaingan polkitik, WIN-HT bukan lawan berat Jokowi, kuda hitam pun bukan.

Dengan lunturnya prinsip “Rapopo” Maka nampaklah wajah Jokowi sebagai politisi. Memang terjun dalam dunia politik ya mau tidak mau harus jadi politisi. Tidak bisa selamanya bersembunyi dalam wajah sufi. Sekarang prinsip “ Aku rapopo” lebih cocok disematkan pada wapres Boediono, karena dia memang bukan politisi.

30032014

Boneka dari Solo

Posted: Maret 14, 2014 in Uncategorized
Tag:, ,

 

“Yang penting pagi sayaboneka-jokowi-ahok-_120808142702-346 ke sini, pekerjaan yang menumpuk sudah saya tanda tangani semua, ya, sudah. Masak sedikit-sedikit izin,” jawab Jokowi perihal bolosnya ke Blitar. Jawaban itu nampak seperti jawaban yang terpaksa diucapkan. Jokowi telah berusaha jujur dengan jawaban itu. Dia memang bukan pejabat yang suka ngeles dengan berbagai alasan yang nggak masuk akal.  Megawati yang mengajak bolos ke  Blitar membuat Jokowi seperti pejabat yang  bisa disetir oleh pemimpin Partai. Tentu dalam hati Jokowi tidak ingin seperti itu, tapi kata tuah yang diharapkan olehnya dan juga berjuta pendukungnya sangat diharapkan keluar dari mulut indah dan berwibawa Megawati. Keputusan Jokowi sebagai Capres PDIP!

Barangkali banyak pemuja Jokowi yang menganggap bolos satu hari lebih baik daripada korupsi. Tentu saja bolos adalah korupsi juga. Korupsi waktu. Tapi ada hal yang lebih penting. PDIP tidak bisa menjaga “kehormatan” kader terbaiknya. Peristwa bolos itu ada dua hal mendasar yang (mungkin) akan menurunkan “kehormatan” Jokowi di mata masyarakat, kecuali tentu saja di mata para pemujanya. Dan juga akan menyulitkan kinerja Jokowi selanjutnya.

Pertama. Saat Jokowi blusukan ke kantor kelurahan, kecamatan, walikota, Jokowi marah besar jika pegawai dan pejabat yang tidak berada di tempat tanpa alasan yang sahih. Ketika wartawan “sidak” ke Balaikota menanyakan keberdaan Jokowi, Ahok mengaku tidak tahu. Siapa yang akan marah besar pada Jokowi? Ahok? Walapun Ahok berani marah sama Mendagri, mustahil dia berani marahin Jokowi. Nah, jika suatu saat Jokowi blusukan lagi dan mendapatkan Lurah, Camat, atau Walikota bolos, apakah dia masih “tega” marah seperti dulu? Bukankah Jokowi telah memberi contoh dengan kalimat singkat yang akan selalu diiingat bawahannya, “ masa sedikit sedikit izin.”

Kedua. Jika nanti (Insya Allah ) Jokowi jadi presiden, apakah Jokowi bisa melepaskan diri dari “hipnotis” Megawati? Sewaktu-waktu Megawati bisa memanggil presiden Jokowi kapan saja dia mau? Apakah presiden RI nanti adalah Megawati yang berwujud Jokowi? atau Jokowi rasa Megawati?

Saran buat PDIP. Kok kalian tega-teganya memamerkan kader terbaik kalian seperti boneka dari Solo yang bisa dimainkan sesukanya. Ayo, jangan ulangi kesalahan, blunder yang sama. Mari jaga “kehormatan” pria kurus dari Solo yang akan bikin gemuk Partai Anda, dan bikin sehat Indonesia!

28 Maret 2014

Mau Nggak Mau

Posted: Februari 27, 2014 in Uncategorized
Tag:, , , ,

Mau demonstrameg joksi sampaikan aspirasi
Nggak mau perc
aya pada politisi
Nggak mau percaya presiden dan para menteri

Mau demokrasi
Nggak mau nyoblos
Nggak mau melihat pameran wajah caleg

 

Mau nyoblos
Nggak mau kalau capresnya Megawati
Harus Jokowi!
Mau piljok
Nggak mau pilpres

Bagaimana kalau monarki?
Nggak mau !
Bagaimana kalau orde lama balik lagi?
Nggak mau!
Bagaimana kalau orde baru balik lagi? Enak zamanku toh?
Nggak mau!
Bagaimana kalau reformasi lagi?
Nggak mau!
Bagaimana kalau Jokowi?
Nggak mau! Eh, siapa tadi?

Tau ah gelap.

26022014

udarSetiap melihat pentil, saya kontan teringat wajah Udar Pristono, Kadishub DKI Jakarta. Entah sudah berapa banyak koleksi pentil di kantornya. Hukuman cabut pentil bagi kendaraan yang parkir sembarangan dikomandani oleh tokoh pentil ini. Wajahnya kerap muncul di telivisi saat anak buahnya mencopot pentil. Kali ini giliran bapak pentil DKI ini dicopot dari jabatannya oleh Jokowi. Ditambah bonus, dimaki oleh pendukung Jokowi di media sosial. Penyebabnya tentu saja kita semua mafhum, apalagi kalau bukan busway karatan.

Itulah bedanya Presiden dengan Gubernur. Jika anak buah presiden membuat kesalahan, presidenya yang dimaki-maki. Bahkan KPK yang lamban menyelesaikan kasus Century, presiden juga kena getahnya. Anak buah gubernur yang konon katanya bersalah ini kurang beruntung. Gubernur, Wagub, dan pendukungnya menudingnya sebagai satu-satunya pendosa dalam hal busway karatan.

Konon Jokowi merasa kena tipu oleh anak buahnya, siapa lagi yang dimaksud kalau bukan Pak Udar. Ahok yang ditugaskan mendatangkan busway juga merasa kena tipu. Padahal mungkin hampir setiap hari keduanya bertemu Pak Udar. Bagaimana nanti jiak jadi Presiden, bisa sering kena tipu kaleeeee.

Ahok berencana memanggil KPK buat ikut terjun ke dalam soal mesin karat ini. Kita lihat saja nanti jika Pak Udar diciduk KPK, bukan mustahil Pak Udar akan bernyanyi sumbang. Bisa jadi bukan anak buah Pak Udar atau rekanan kerjanya yang akan ikut memakai baju tahanan KPK. Bisa jadi juga atasannya. Jika pemanggilan KPK hanya sebatas wacana, tafsirkan sendiri sajalah.

Kemana selanjutnya Pak Udar berlabuh? Jabatan barunya sebenarnya cukup keren,Tim Gubernur Percepatan Pembangunan. Hmmmm…berkaca dari copot pentil lalu kena copot, jangan-jangan percepatan pembangunan bisa menjadi percepatan pensiun.

12 Pebr 2014

Lurah Susan Tersayang

Posted: Januari 14, 2014 in Uncategorized
Tag:,

lurah-susan-tak-ada-saat-jokowi-sambangi-kelurahan-lenteng-agung

Pada awal kepimpinan Jokowi, langsung menggebrak dengan blusukan ke setiap wilayah, lorong, gorong-gorong. Tidak ada satau lorong pun yang luput dari jejak kakinya. Gebrakannya ini bukan hanya membuat terkejut warga DKI, tapi juga para pejabat yang terbiasa melihat warganya dari belakang meja atau dari balik kaca mobil gelapnya.

Bagi para lurah dan camat, bukan sekedar terkejut, tapi bikin jantung berdegup lebih keras ditambah tekanan darah naik, syukur-syukur bisa turun lagi. Nasib sial bagi lurah atau camat yang ketika didatangi Jokowi tidak berada di tempat. Apa pun alasannya. Misalnya ada staff kecamatan dengan lutut gemetar mengatakan pak camat sedang rapat di walikota. Dan camat naas itu pun setelah ditelepon bawahannya, meninggalkan kantor walikota terbirit-birit naik ojeg, walaupun akhirnya sampai di garis finish tetap tidak bertemu Jokowi. Dalam hati Jokowi mungkin bisa menerima alasan itu, tapi karena sudah kadung marah, alasan itu disampan saja dalam hati. Sudah dapat ditebak nasib camat itu. Diberitakan mangkir kerja, dan dibully oleh pasukan jokowi di media sosial.

Tapi nasib Lurah Susan, pengayom warga Lenteng Agung nasibnya lebih beruntung. Enrtah karena lurah hasil lelang yang harus di jaga martabatnya, atau karena memang lurah kesayangan Jokowi. Merdeka.com memberitakan, Jum’at (10/1) Jokowi mendadak mampir di kantor kelurahan Lenteng Agung. Kebetulan Lurah Susan tidak berada di tempat. Marahkah Jokowi? Tentu saja tidak. “Saya enggak cari bu Lurah (Susan), saya menilai pelayanan kok,” jelas Jokowi. Jokowi memuji pelayanan di kantor kelurahan itu yang menurutnya sudah bagus,sesuai dengan keinginannya. Kalau sudah begitu, tidak penting lagi di mana dan sedang apa Lurah Susan.

14012014