Posts Tagged ‘megawati’

jokpres

Tidak membicarakan Jokowi sehari saja mulut dan tangan terasa gatal, Jokowi memang “obat gatal “ paling ampuh sekarang ini. Gatal komentar tentu saja. Ruang publik telah dipenuhi oleh satu nama fenomenal ini seolah tidak ada sisa ruang buat nama lain. Jika ada nama lain, tetap dikaitkan dengan Jokowi. Siapa pun yang dibicarakan, tidak sedap rasanya jika tidak diberi bumbu Jokowi.

Mau bicara boneka yang kita tahu mainan anak-anak, tidak lucu jika tidak dikaitkan Jokowi. Bolehlah sekali-sekali dikaitan dengan Ical dalam konteks yang berbeda. Ical lebih pada sebutan boneka sebagai kata benda murni, benda yang dalam foto nampak dipeluk hangat-hangat mesra.

Tidak semua setuju Jokowi dikaitkan dengan boneka, terutama para pendukung dan pemuja jokowi, yang bukan pendukung juga seperti Thamrin Dahlan, dia tidak setuju istilah boneka, dia lebih setuju istilah romote control, bukan buat tivi tapi buat robot. Siapa robotnya? menurut Thamrin ya tidak kurang tidak lebih Jokowi. Siapa pemegang remotenya? Tentu saja Bu Mega. Ini kata Thamrin lho ya bukan kara kata saya, kalau nggak percaya baca saja, nih linknya: http://politik.kompasiana.com/2014/03/31/capres-ala-remote-control-643495.html
Yang nggak setuju silakan marahin Pak Thamrin saja.

Di media sosial lagi ramai membicarakan perihal ngamuknya sejumalh kader PDIP di Trenggalek gara-gara jokowi membatalkan mendadak kunjungannya ke Trenggalek. Saya memaklumi kemarahan kader PDIP itu, karean mereka telah cukup lelah menunggu kedatangan idolanya itu kurang lebih 8 jam. Sayangnya di tengah perjalanan, Jokowi sang Idola mendadak dipanggil pulang ke Jakarta oleh Bu mega sebagai pemegang — istilah Tahmrin Dahlan – remote controlnya. Sebelum saya dituduh penyebar fitnah, saya kasih link beritanya : http://www.merdeka.com/politik/8-jam-ditunggu-jokowi-tak-datang-kader-pdip-kesal-banting-meja.html

Tentu bukan kali pertama Mama Mega mencet romote, setidaknya yang diketahui publik. Ini kali yang kedua. Pertama, sewaktu dulu mendadak diajak ziarah ke makam Bung Karno. Lho kok ziarah harus pakai remote? Pasalnya, waktu itu tidak ada satu pun pejabat Pemrov DKI termasuk Ahok yang tahu keberadaan Jokowi. Dia seprti tiba-tiba menghilang sampai ada konfirmasi yang bersangkutan bolos ke Blitar diajak Mama Mega. “ Masa sedikit-sedikit harus minta izin,” alasan Jokowi waktu itu.

Persitiwa kemarahan kader PDIP Trenggalek itu menuai komentar yang mengerucut pada satu kata yang mungkin hampir tenggelam : Boneka. Kata ini jadi populer lagi. Jasmev pun nampaknya kesulitan menjawab komentar negatif itu. Bahkan ada yang nyindir agak kocak juga. Ada yang berandai-andai, jika nanti Jokowi jadi presiden, saat sedang mempin rapat kabinet tiba-tiba dipanggil mendadak Mama Mega, Jokowi akan meninggalkan rapat itu. Ada juga yang bilang nggak kalah kocaknya, jika nanti sedang menerima tamu negara, mendadak dipanggil Mama, Jokowi akan meninggalkan tamu itu.

Makanya Bu Mega, jangan sering pencet Remote Jokowi, kasihan kan Jokowi ditarik kesana kemari seperti layang-layang, mentang-mentang Ibu menyebut dia si Kurus. Kurus tapi kan bisa bikin gemuk Banteng.

 

Iklan

Boneka dari Solo

Posted: Maret 14, 2014 in Uncategorized
Tag:, ,

 

“Yang penting pagi sayaboneka-jokowi-ahok-_120808142702-346 ke sini, pekerjaan yang menumpuk sudah saya tanda tangani semua, ya, sudah. Masak sedikit-sedikit izin,” jawab Jokowi perihal bolosnya ke Blitar. Jawaban itu nampak seperti jawaban yang terpaksa diucapkan. Jokowi telah berusaha jujur dengan jawaban itu. Dia memang bukan pejabat yang suka ngeles dengan berbagai alasan yang nggak masuk akal.  Megawati yang mengajak bolos ke  Blitar membuat Jokowi seperti pejabat yang  bisa disetir oleh pemimpin Partai. Tentu dalam hati Jokowi tidak ingin seperti itu, tapi kata tuah yang diharapkan olehnya dan juga berjuta pendukungnya sangat diharapkan keluar dari mulut indah dan berwibawa Megawati. Keputusan Jokowi sebagai Capres PDIP!

Barangkali banyak pemuja Jokowi yang menganggap bolos satu hari lebih baik daripada korupsi. Tentu saja bolos adalah korupsi juga. Korupsi waktu. Tapi ada hal yang lebih penting. PDIP tidak bisa menjaga “kehormatan” kader terbaiknya. Peristwa bolos itu ada dua hal mendasar yang (mungkin) akan menurunkan “kehormatan” Jokowi di mata masyarakat, kecuali tentu saja di mata para pemujanya. Dan juga akan menyulitkan kinerja Jokowi selanjutnya.

Pertama. Saat Jokowi blusukan ke kantor kelurahan, kecamatan, walikota, Jokowi marah besar jika pegawai dan pejabat yang tidak berada di tempat tanpa alasan yang sahih. Ketika wartawan “sidak” ke Balaikota menanyakan keberdaan Jokowi, Ahok mengaku tidak tahu. Siapa yang akan marah besar pada Jokowi? Ahok? Walapun Ahok berani marah sama Mendagri, mustahil dia berani marahin Jokowi. Nah, jika suatu saat Jokowi blusukan lagi dan mendapatkan Lurah, Camat, atau Walikota bolos, apakah dia masih “tega” marah seperti dulu? Bukankah Jokowi telah memberi contoh dengan kalimat singkat yang akan selalu diiingat bawahannya, “ masa sedikit sedikit izin.”

Kedua. Jika nanti (Insya Allah ) Jokowi jadi presiden, apakah Jokowi bisa melepaskan diri dari “hipnotis” Megawati? Sewaktu-waktu Megawati bisa memanggil presiden Jokowi kapan saja dia mau? Apakah presiden RI nanti adalah Megawati yang berwujud Jokowi? atau Jokowi rasa Megawati?

Saran buat PDIP. Kok kalian tega-teganya memamerkan kader terbaik kalian seperti boneka dari Solo yang bisa dimainkan sesukanya. Ayo, jangan ulangi kesalahan, blunder yang sama. Mari jaga “kehormatan” pria kurus dari Solo yang akan bikin gemuk Partai Anda, dan bikin sehat Indonesia!

28 Maret 2014